Selasa, 01 Desember 2020
Flipped Classroom, Solusi Efektif Pembelajaran di Era New Normal
Flipped Classroom, Solusi Efektif Pembelajaran di Era New Normal
Pembelajaran adalah proses interaksi antar peserta didik, antara peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar (Peraturan Pemerintah RI Nomor 13 Tahun 2015). Pembelajaran yang baik adalah dimana komponen tersebut dapat berjalan sesuai harapan. Sehingga output/hasil yang didapat memenuhi tuntutan kurikulum.
Dalam peraturan Mendikbud Nomor 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah juga disebutkan Proses Pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Dimana dalam Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi dikemukakan bahwa pembelajaran yang digunakan adalah belajar berbasis aneka sumber belajar. Pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang berlangsung di rumah, di sekolah dan di masyarakat.
Pembelajaran yang digunakan menerapkan prinsip bahwa siapa saja adalah guru, siapa saja adalah peserta didik dan dimana saja adalah kelas.
Dalam poin selanjutnya dipaparkan bahwa pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi digunakan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran. Sehingga jelas bahwa model pembelajaran yang lama seperti pembelajaran menggunakan guru sebagai sumber yang utama dan satu-satunya bukanlah menjadi sesuatu yang relevan. Pada sisi lain, kebutuhan sumber belajar menjadi suatu ketimpangan. Karena ternyata aneka sumber belajar tidaklah lengkap apabila sumber belajar tersebut kuantitasnya menjadi minim.
Di era yang serba digital seperti sekarang ini, pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi masih setengah-setengah. Hal ini terjadi akibat dilarangnya penggunaan gawai pada siswa di lingkungan sekolah. Padahal gawai tidak selamanya berdampak buruk bagi siswa. Gawai bisa juga dimanfaatkan untuk pembelajaran. Kita bisa mengakses sumber belajar melalui YouTube, mengunduh e-book, dan melakukan kuis interaktif di platform daring. Namun peraturan yang melarang siswa membawa gawai menjadi salah satu kendala dalam pembelajaran memanfaatkan teknologi ini.
Banyak model pembelajaran yang ditawarkan dan bisa dipilih oleh guru, tetapi masih belum menjawab kendala yang umumnya terjadi dalam satuan pendidikan. Sehingga Pembelajaran dengan menggunakan Strategi Kelas Terbalik (Flipped Classroom) bisa menjadi acuan pembelajaran yang efektif dan efisien.
Pembelajaran dengan menggunakan metode Flipped Classroom menuntut siswa untuk mempelajari materi di rumah terlebih dahulu dengan cara menonton video yang dikirimkan guru melalui Whatsapp Group sehingga siswa memperoleh pengetahuan awal tentang materi yang akan diajarkan keesokan harinya.
Hal ini juga bertujuan untuk memudahkan pengorganisasian siswa, pengiriman materi dan sumber belajar serta memudahkan siswa berdiskusi mengenai materi yang sulit dipahami.
Selain video, guru juga dapat mengirimkan link, dokumen atau apa saja yang menjadi materi pembelajaran. Model pembelajaran seperti ini sangat mungkin untuk dilakukan karena sekalipun siswa tidak memiliki gawai, mereka dapat meminjam gawai orang tuanya untuk media komunikasi WhatsApp, sehingga orang tua juga dapat memantau aktivitas pembelajaran anaknya. Proses pembelajaran seperti ini hanya bisa dilakukan di rumah mengingat kebijakan sekolah yang tidak memperbolehkan siswa membawa gawai.
Model pembelajaran Flipped Classroom dapat mengefektifkan waktu belajar siswa di sekolah. Yang artinya guru tidak membuang banyak waktu untuk memaparkan materi dengan ceramah, karena materi sudah dipelajari di rumah masing-masing.
Guru hanya bertugas untuk menjadi fasilitator ketika siswa merasa kesulitan di kelas, membimbing mereka untuk melakukan diskusi dan tanya jawab.
Orang tua akan diberikan kesempatan melakukan pendampingan ketika siswa mengalami kesulitan belajar. Orang tua berkolaborasi melancarkan proses belajar si anak bersama guru, demi ketercapaian indikator pembelajaran di era new normal.
Dengan metode pembelajaran seperti ini tentu akan cocok dengan intruksi pemerintah untuk memberlakukan tatanan hidup baru di tengah pandemi. Dimana pada sisi lain, waktu dan jam belajar siswa dibatasi sehingga penerapan belajar kelas terbalik/flipped classroom dapat menjadi solusi pembelajaran yang maksimal dan memiliki kebermaknaan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar