dwi setya
Selasa, 01 Desember 2020
ANGGUR 2
Yuk, kita lanjutkan kembali pembahasan kemarin!
3. Overdosis pupuk
Pupuk apapun baik kimia maupun organik,
harus digunakan dengan aturan pakai yang tepat.
Salah menentukan dosis dan waktu pemakaian,
akan berdampak buruk terhadap kesehatan tanaman.
Kelebihan pupuk atau overdosis
merupakan faktor kematian pohon anggur
yang bisa dikatakan paling sering terjadi.
Bahkan tak jarang,
dialami juga oleh penghobi yang sudah
berpengalaman sekalipun.
Dalam panduan menanam anggur
yang telah anda download sebelumnya,
disana telah saya jelaskan secara rinci
teknis pemupukan anggur, mulai dari jenis pupuk,
dosis, waktu dan frekuensi pemupukan
sejak awal tanam hingga pohon berbuah produktif.
Semua sudah lengkap untuk anda terapkan di lapangan.
Faktor #2: Bibit Anggur Terlalu Muda
Layaknya semua makhluk hidup apapun,
baik hewan, tumbuhan hingga manusia,
semakin muda usia - semakin lemah tak berdaya.
Jika anda ingin meminimalisir resiko kematian pohon anggur pasca tanam,
maka tanamlah menggunakan bibit yang sudah cukup umur.
Sebagai gambaran,
setidaknya ada 5 kriteria yang bisa anda gunakan
sebagai parameter apakah bibit anggur sudah layak tanam ke lahan atau belum.
Berikut kriterianya:
Akar sudah rimbun dan berwarna coklat.
Tinggi bibit lebih dari 50cm.
Apabila bibit berasal dari hasil grafting (sambung/okulasi),
maka kondisi sambungan sudah menyatu sempurna.
Batang sudah mulai berkayu.
Bibit sudah kuat dipaparkan sinar matahari seharian penuh.
Apabila bibit yang anda gunakan
tidak memenuhi salah satu kriteria di atas,
maka jangan heran jika pohon mudah mati setelah ditanam ke lahan.
Itulah beberapa faktor penyebab kematian pohon anggur
pada fase awal pertumbuhan yang paling sering terjadi di lapangan.
Mudah-mudahan setelah membaca tulisan ini,
anda bisa lebih pandai dalam meminimalisir pohon anggur anda dari kematian.
Kita cukupkan sampai disini.
InsyaAllah, besok saya akan membahas topik lainnya
seputar berkebun anggur.
ANGGUR 1
Banyak penghobi pemula mengeluhkan pohon anggur mereka
mati beberapa waktu setelah tanam.
Ada yang mati dalam hitungan bulan, minggu, bahkan hari.
Mengapa bisa mati?
Kali ini saya ingin membahas masalah tersebut,
berdasarkan pengalaman saya pribadi dan kawan-kawan penghobi lain.
Harapannya, tulisan ini bisa menjadi catatan anda
untuk menghindari segala kemungkinan
yang menyebabkan pohon anggur mati di usia muda.
Yuk, langsung saja!
Setidaknya ada 2 faktor utama penyebab kematian tanaman anggur muda yaitu:
Kesalahan teknis pemeliharaan
Bibit anggur terlalu muda
Supaya lebih jelas, mari kita bahas lebih dalam...
Faktor #1: Kesalahan Teknis Pemeliharaan
Bagi penghobi pemula
yang belum pernah menanam anggur sebelumnya,
sangat dimaklumi jika melakukan kesalahan teknis tanam dan perawatan.
Namun setelah membaca tulisan ini,
mudah-mudahan kedepan nanti
anda tidak melakukan kesalahan yang sama seperti penghobi lain.
Berikut beberapa kesalahan umum yang paling sering terjadi:
1. Pengolahan tanah tidak sesuai prosedur
Pada saat awal penanaman bibit anggur
ke pot ataupun grounding (di tanah langsung),
media tanam atau lubang tanam perlu diolah terlebih dahulu,
salah satunya dengan menambahkan pupuk kandang sebagai campuran tanah.
Kesalahannya adalah sering saya temukan
penghobi yang langsung menanam bibit anggur
tidak lama dari pengolahan tanah tersebut.
Jadi, ibarat pagi ini tanah diolah,
maka nanti sore, besok atau beberapa hari kemudian
bibit segera ditanam ke media/lubang tanam.
Mestinya, tanah yang baru dicampur dengan pupuk kandang
baru boleh ditanami setidaknya 1 bulan setelahnya.
Karena selama waktu tersebut,
pupuk kandang masih dalam kondisi PANAS
akibat proses dekomposisi (penguraian) oleh bakteri tanah,
atau sebagian orang menyebutnya "proses fermentasi".
Dalam kondisi tersebut,
tanaman yang bersentuhan langsung dengan pupuk kandang
akan mengalami keracunan dengan ciri-ciri;
daun tampak mengering dimulai dari sisi pinggir daun,
kemudian merambat ke tengah daun.
Setelah itu, akan terus merambat ke batang hingga ke seluruh organ tanaman,
tergantung pada tingkat keracunannya.
Pada kondisi yang parah,
tanaman akan mati dalam hitungan hari
pasca bersentuhan langsung dengan pupuk kandang.
Jadi, apabila anda baru saja
mencampurkan pupuk kandang ke media/lubang tanam anggur,
maka kering-anginkan terlebih dahulu selama 1 bulan
sebelum mulai ditanami bibit anggur.
2. Penyiraman berlebih
Pohon anggur usia 1-3 bulan setelah tanam
masih sangat rentan mengalami busuk akar
apabila penyiraman dilakukan terlalu sering.
Oleh sebab itu,
selama fase awal pertumbuhan tersebut
anda hanya perlu menyiram 2-3 kali seminggu, tidak lebih.
Apabila berada di musim hujan,
tutupilah tanah di sekeliling tanaman
dengan plastik mulsa, terpal atau semisalnya
supaya terlindung dari guyuran air hujan.
Namun sebelumnya,
tanah yang akan ditutupi harus ditinggikan 1 jengkal terlebih dahulu.
Sedangkan pohon anggur yang ditanam dalam pot,
sebaiknya letakkan di lokasi yang terlindung dari paparan air hujan.
Namun usahakan, tanaman tetap mendapatkan
cahaya matahari langsung minimal 5 jam/hari.
Berhubung tulisan ini sudah terlalu panjang,
baiknya kita sambung besok ya...
CERPEN "DIBAYAR KONTAN"
Dibayar kontan
Praaaang
!!!!!terdengar benda pecah dari kamar sebelah.Dasar anak tidak tahu diuntung
dibesarkan,disekolahkan ,begini caramu membalas budi pada orang tua,hah??!!
Kembali kalimat pedas itu mengalir dari orang yang aku sayangi
Pagi ini piring pecah lagi,karena lauk yang tidak sesuai keinginan.Ayah
maaf
baru ini yang bisa Een masak hari ini..jawabku menahan isak tangis.tidak
.emang dasar kamu aja yang ngga tau diuntung,ngga tau balas budi,ayah cuma pengen opor En
opor
kau beri tahu..tempe
tahu ,,tempe
kau dulu kubesarkan dengan makanan enak,kau minta apa aku turuti.Tapi begini masa tuaku
duhai nasib
.memungut anak yang tidak berguna
menghabiskan orang tua
dasar bunga tanah
dinaikkan keatas pot ya tetap saja turun ke tanahsungut ayah sambil aku memunguti pecahan piring dilantai.Masih kutahan air mata ini,walau hati menderu.
umma
..seru anakku..
ya,Nak,
.umma disini..sebentar
jawabku,kemudian aq keluar dari kamar Ayah..maaf ayah..belum bisa membahagiakan Ayah
Ayah yang sehat ya
Pamitku sambil menunduk menahan air mata yang sudah memenuhi kelopak mata ini.
Sekilas kulihat ayah memalingkan wajahnya kearah dinding kamar,masih dengan wajah masam.
Ku dekati anakku yang masih berusia 3 tahun itu,sakit dia,sudah 3 hari ini demam,tanpa aku bisa membawanya brang ke puskesmas terdekat,hanya kubaluri dengan bawang merah dan minyak tanah.
Rupanya ia tidak mau ditinggal barang sekejap.Pelan..kucium dan ku kompres lagi dengan air hangat dan sobekan kain di dahinya,hanya ini yang kutahu saat anakku demam.umma jangan pergi-pergiceloteh anakku.umma dari kamar kakek sayang
tadi baru selesai makan.
tadi suara apa ,Umma?rupanya anakku kaget jadi terbangun
oh..tadi
piring kakek jatuh,jawabku
kenapa jatuh?tanyanya lagi
Umma salah,mejanya tidak umma dekatkan ke kakek,sedangkan tangan kakek tidak bisa menjangkaunyajawabku.Aisy mau tidur lagi?tanyaku
iya Umma
masih ngantukjawabnya sambil mengucek pelan dua matanya.
Tak lama Aisy terlelap,air mataku langsung tumpah tak terbendung.
Aku Een,seorang ibu rumah tangga dengan anak satu,Aisyah.suamiku hanya tukang ojek biasa,Ikhsan namanya.
Aku anak pungut?
Iya
aku dipungut ayah dan mendiang ibu saat usiaku 15 hari,
Dulu orang tuaku merupakan kategori orang kaya di sebuah kota kecil,untuk tahun 1980-1988 dengan memiliki becak sewaan sebanyak 27 buah,sewa beberapa kios di pasar kota,dan pemilik 2 gedung bioskop adalah kategori keluarga dengan ekonomi yang lumayan kala itu.aku beruntung dibesarkan dan disekolahkan hingga tamat SMA ternama.Namun keterpurukan ekonomi sejak aku duduk di kelas 4 SD.
Aku sendiri dilahirkan di tahun 1982,dan punya kakak yang sama-sama diasuh laki-laki,Eko namanya.
Aku berpindah tempat tinggal dengan orang tuaada beberapa kali,di Jakarta pun,aku telah merasakan jadi orang udik disana,masih SD kala itu,mengamen dan berdagang asongan pun aku jalani dengan route Cakung Senen.
Nasib?
Aku tak pernah menganggapini nasib buruk,aku berpendapat ini takdir dan tugas cerita yang harus aku jalani sebagai makhluknya Tuhan.
Entah kenapa hari serasa derita itu pada ujungnya,pada puncaknya.
Dadaku sesak..seolah sudah tak mampu lagi menampung duka..
Ya..terhitung dari kelas 4 SD hingga aku mempunyai anak,masih dalam lingkaran kemiskinan.
Hingga untuk memasak setiap hari dari uang yng diberi suami hanya cukup membeli beras,minyak tanah,dan lauk untuk ayah.
Aku dan anakku,?
Aku kesawah orang-orang untuk sekedar meminta sayuran segenggam pada mereka,atau mencari daun semanggi saat sawah basah berair,kucampur garam dan sedikit bumbu kaldu diwarung.
Dititik ini,aku sudah tak kuat lagi,sungguh
.aku ingindemoaku ingin menuntutpada Tuhan.
Ucapan ayah tadi benar-benar membut aku tak dapat lagi menahan air mata ini.
Saat Aisy tertidur,beranjak aku gelar sajadah,aku mengadu pada Tuhan..
Dalam doaku aku pinta satu hal,Tuhan
aku mau uang yang banyak,aku lelah hidup miskin berathun-tahun,aku lelah diinjak-injak sana sini,namun aku tak mau menyekutkanMu.setiap hari aku hanya punya uang 5 ribu rupiah saja.aku mau uang berjuta-juta,aku mau membahagiakan ayah,aku mau mengobati anakku,aku mau aku berhenti dihina suamiku karena tidak bisa cari uang.Tuhan
aku minta uang yang banyak,dan untuk ayahku
aku pasrah padaMu,ia milikMu,Engaku pemilk hatinya,aku pasrah
Terlontar begitu saja kalimat-kalimat itu dari mulutku,dengan tangan yang terangkat tinggi,dengan simpuhan serendah-rendahnya.
3 hari kemudian,saat malam .
Ayah yang duduk diruang tamu ,En
ini lampu kok begini ?
Kenapa ayahtanyaku balik
ngga nyaman di matakemudian ayah bangkit,menuju kamarnya.tak lama kudengar ia memanggilku
En
serunya
Ya Ayah
..aku mendekat
Ikhsan
.dia panggil suamiku
sedang keluar malam ,mangkal Ayah
Aisy
.memanggil anakku
Ngga mau
kakek lagi sakitceletuk Aisy..
sini ,Nak
dipanggil kakek
ngga mau
.jawab aisy dikamarnya
sudah sembuh dia..
Aku masuk kamar,Allahu akbar!pekikku,
Ayah hendak berhajat namun dilantai semua
Aku bersihkan semua,pelan aku seka,badan besarnya tak mampu aku angkat lagi setelah diatas dipan.
Baju harus aku l;epas,akhirnya aku ambil gunting,aku gunting baju dari sisi samping,
Duhai
.aq melepas baju kotor ayah dengan gunting
ayah
.kenapa?ayahku tak bisa berucap lagi,dia mengorok keras.
Dengan tangan gemetar,aku selesaikan membersihkan kamar dan bajunya ,aku gendong aisy mencari suamiku untuk memanggil mantri
Kulihat didompet,hasil mencuci baju tetangga 6 hari lalu yg aku kumpulkan ada Rp30.000..
Aku telepon kakak,pinjam pesawat telepon tetangga,kata kakak..kamu punya uang ngga?kalau ngga punya ngga usah dibawa ke RS,apapun yang terjadi aku ngga akan pulang,urus saja ayahmu sediri,kalau ada apa-apa,tlp lagi ajalemas
.tega kau kak
Ayah koma,
3 hari dirumah.
Aku,tak bisa berbuat apa-apa
aku anak yang tidak berbakti,bahkan disaat seperti ini saja aku tak bisa membawanya ke Rumah Sakit.
Dalam 3 hari kondisi ayah semakin parah,badannya mendingin perlahan dari ujung kaki,
Aku disampingnya,Ayah
.bisikku
Een sayang ayah
.sedikitpun Een tidak membeci ayah,Een minta maaf belum bisa menjadi seorang yang ayah banggakan ,bagi Een..ayah adalah ayah terbaik Een..
Ajaib
aku lihat Ayah tersenyum walau dengan bersusah payah,ya
ayah tersenyum
ayah pasti sembuhMaafkan een,tidak bisa membawa ayah ke dokter,seperti yang ayah lakukan saat een sakit dulu,kataku lemah,namun menagis.
Kulihat ayah tersenyum,ia ucapkan kata Allah
setelah aku bisikkan pelan ditelinganya,
Sejurus kemudian,matanya terbuak dan menutup lagi,ayah tidak bernafas.
ayah
.seruku..sambil kugerakkan tangannya,Ayah
.kupanggil lagi..
Suamiku mendekat,mengecek detak jantung,kemudian keluar,tak lam kembali dengan pak Mantri,mengatak Ayah telah tiada.
Seketika sendiku lemas
Rasa yang sama saat ibu meninggal,rasa yang sama saat kakaknya aisy mendahului kami,rasa yang sama saat istri kakakku menyusul,mereka semua pergi hanya dalam kueun waktu 3 bullan saja.
Dan rasa ini datang lagi.
Esok pagi ramai orang melayat,pemakaman disiapkan
Anakku mau mendekat dan mengerti kakeknya telah tiada
Menjelang siang,raga ayah telah dimakamkan.
Aku kembali kerumah,bersama orang-orang dan keluarga suamiku
Saat akan masuk kamarku,karena aku pening aku dipanggil kaka suamiku
Menyodorkan sesuatu ditangannya,tebal sekali
nih.duit bapakmu,uang sholawat sudah kuhitung,3 juta rupiah
Hatiku seketika merasakan sakit luar biasa,gemetar tangan ini,sesak nafas ini,ayahku dihargai 3 juta?
Seketika aku ingat doa beberapa hari lalu.
Aku langsung menjerit Allah
.ampuni aku
..
Aku mau ayahku
jeritku
Duhai
.sakitnya..
Anak macam apa aku?
Aku tak mau uang banyak,aku mau bersama orang yang aku sayangi,aku tak mau uang
Kemudian semua terasa gelap.
CERPEN "SAYAP KINANTI"
SAYAP KINANTI
“Kinan…..pulang yuk…”.Diapun menoleh kearah sumber suara.Menghela nafas dalam-dalam lalu bangkit dan beringsut,berdiri,dan berjalan pelan mendekati sumber suara.
“Maafkan aq Ju…”kata Kinan.,”Iya ..Kinan…”Jawab lelaki bermata teduh itu,menggamit mesra tangan Kinan,Istrinya.
Membimbing mesra menuruni Bukit Pertapan sore itu.
“Tumben kau terlalu lama disana Kinan?” Tanya Juju sambil tetap menuntun ,menapaki anak tangga dari tanah,satu demi satu.
“Angin terlalu nikmat tadi,sehingga melenakan aq..”jawabnya.
Kinan dan Juju mereka menikah 20 tahun lalu,sekalipun sampai diusia mereka yg menjelang setengah abad mereka tetap saling menjaga.
10 menit kemudian mereka mendekati rumah kayu sederhana namun asri.
Tiba-tiba Kinanti menghentikan langkahnya.Juju pun berhenti memandang wajah istrinya.
Berubah nampak pucat.Kinan mudur barang dua langkah,namun tangannya semakin erat menggenggam tangan suaminya.
“Tidak mungkin….tidak mungkin Ju…”
“Ada apakah Kinan..ayo …”lembut Juju tetap memegang tangan.
“jaga aku Ju…”pinta Kinan,”iya ..sayang..”
Pelan tapi pasti,mereka berjalan memasuki pekarangan rumah.Pintu telah terbuka,rupanya ada tamu yang telah duduk di serambi rumahnya.
“Kinan….”Tamu itu menyapa.
“Lanang,”suara parau Kinan tercekat.Kemudian dibimbing Juju untuk duduk didepan Lanang.
“Dia sudah datang dari tadi”,Juju berkata lembut sambil membimbing Kinan duduk
Kinan mengatur nafasnya yang sempat tidak stabil karena terkaget tadi,
“Apa kabar Lanang?’sedikit bergetar Kinan menyapa.
“Berkat do’amu aku telah datang dan baik..”jawab Lanang namun semakin lirih .
“Mengapa lama sekali….?ini sudah terlalu lama..”tatapan mata Kinan kosong,namun ada setetes air yang membasahi sudut matanya.
Lanang tertunduk,sejurus kemudian dia menatap sayu Kinan kekasihnya dulu,wanita yang sangat ia harapkan mendampingi masa tuanya,yang ia perjuangkan mengarungi lautan agar bisa meminangnya,karena telah menyelamatkan nyawanya.
Bayangan kecantikan itu masih ada,wajah sendu itu masih terpancar diantara keriput yg mulai menampakkan diri,dan mata itu masih indah,hanya pantulannya sekarang berbeda
“kau dikabarkan telah tiada ,Lanang….”ucap Kinan lirih
“Kau bisa….20 tahun ini tanpa berita sedikitpun..”Kinan meraba meja didepannya,menggeser duduknya agar dekat dengan Lanang.Kemudian Djuna membantunya,diraihlah tangan Lanang.Lanang membelai jemari Kinan,sembari menatap Djuna.
Suami Kinan hanya tersenyum,memaklumi keadaan yang ada.
“Tanganmu,mulai keriput,Nang….”,kata Kinan dengan suara parau.
Lanang menulan ludah dengan sedikit kesusahan,tenggorokannya seperti tersekat .
“Maafkan aku..”
Kinan menghela nafas,dan tersenyum
Kemudian menatap Djuna suaminya,”Ju…terima kasih…aq tetap disini,aku tak kemana-mana,”
“Iya Kinan aku tahu..akupun demikian,takkan meninggalkanmu.”jawab Djuna
“Aku pamit Kinan,”kata Lanang sambil bangkit.
“iya,terima kasih untuk hidup Nang…”jawabnya.
“Aku antar kau Nang..”seru Djuna sambil membimbing istrinya ke kamar.
Lanang terhenti didepan pintu rumah.
Setelah mengambil air wudhu,Kinan membentangkan sajadahnya,kemudian bersujud lama,ia berbisik …”Jangan pisahkan keningku dari sajadah ini ,Rabby….jangan biarkan aku bangkit untuk menangis”
Diluar Djuna menemui Lanang,
“Sejak kapan ia buta Ju?”Tanya Lanang
“Sejak menangisi ‘kematianmu’”Jaab Djuna
“Bagaimana Kau bisa disampingnya?”Lanang merasa seolah-olah masih muda
“Aku lelaki Nang…,aku tidak bisa melihat ia tenggelam dalam lukanya,setiap sore ia naik ke Bukit Pertapan itu,ia pandang lautan..berapa lama ia gila menantimu pulang,sepuluh tahun ia mencoba menerima kepergianmu,Aku teman terbaiknya,tak sanggup aku melihat air matanya.Entah ia terima atau tidak,aku siap menemani hidupnya,semenjak orang tuanya pun lautan renggut.”
Lanang kemudian menatap senja didepannya.
“Ju…kau tau kondisiku saat ini…operasi yg besok aku jalani,akan besar resikonya,berikan mataku untuk Kinan,dulu dia berharap mataku adalah sayapnya yang membawanya terbang,melihat dunia luar,melihat lumba-lumba berkejaran,melihat gugusan pulau dan Negara lain.Aku yang membuat sayap Kinan patah.Aku percaya bersamamu Kinan aman dan Kau lelaki paling tepat untuk Kinan.”
Djuna terdiam,ia tahu cinta Kinan sudah bukan untuk Lanang.Sempat tadi Djuna juga meradang yang ditahan,karena kedatangannya pasti akan membuka luka Kinan.
“Terima kasih Nang…”jawab Djuna
Enam bulan berselang..
“Kinan…..pulang yuk…”.Diapun menoleh kearah sumber suara.Menghela nafas dalam-dalam lalu bangkit dan beringsut,berdiri,dan berjalan penuh dengan senyuman mendekati sumber suara.
“Sudah lama Ju…”kata Kinan.,”Baru saja…”Jawab lelaki bermata teduh itu,menggamit mesra tangan Kinan,Istrinya.ditatapnya lembut mata suaminya itu.
“Kenapa Temanku yg cantik?”Tanya Djuna tanpa melepaskan genggaman tangan Kinan.
Kinan menggelayut mesra..
Sembari berjalan ke mushola kecil disebelah Bukit Pertapan pesisir pantai,
Menemui anak-anak kecil yang siap mengaji bersama mereka.
“uban di jenggotmu menambah kau tampan Dju…”jawab Kinan tersipu
“aih….orang tua ini bisa aja ya…”kata Djuna sambil mengelus kepala istrinya
“sudah kau lihat foto yang dikirimkan Lanang?”Tanya Djuna
“sudah…aq senang sekali…,aku bisa terbang disini”senyum Kinan.
Djuna hanya terdiam sedikit senyum merasakan senangnya sang istri,bisa terbang melihat dunia dengan matanya,
namun lelaki pasti punya rahasia.
Kinan tidak pernah tahu….foto berbagai tempat adalah pesan terakhir Lanang,agar Kinan mengira Lanang kembali berlayar,bukan dalam pembaringan abadinya.
TAMAT
Penulis
Dwi Setyaningsih
( ummu rohmah)
Banjarnegara,21 Agustus 1982
Kamulyan Rt 02/01 Tambak Banyumas 53196
082221824186
ARTIKEL DWI SETYANINGSIH,S.Pd
HUBUNGAN STATUS GIZI YANG DIKONSUMSI DENGAN TINGKAT KECERDASAN PADA ANAK USIA SEKOLAH DASAR DITINJAU DARI STATUS SOSIAL-EKONOMI ORANG TUA
Disusun oleh :
DWI SETYANINGSIH,S.Pd
PROGRAM PPG DALAM JABATAN UNIVERSITAS KANJURUHAN MALANG
TAHUN 2020
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hampir sebagian besar masyarakat, faktanya sering kurang memperhatikan tentang gizi yang terkandung dalam makanan yang di konsumsi sehari-hari. Permasalahan gizi ini menjadi cukup kompleks karena tingkat kemiskinan di Indonesia cukup tinggi sehingga banyak masyarakat menengah kebawah yang kurang memperhatikan kandungan gizi dalam makanan yang mereka konsumsi.
Kesehatan, pendidikan, dan ekonomi merupakan tiga pilar utama penentu kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di Indonesia. Laporan United Nations Development Programme (UNDP) menunjukkan bahwa pada tahun 2004, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia menduduki peringkat 111 dari 177 negara, lebih rendah dibandingkan dengan peringkat IPM negara- negara di Asia Tenggara. Rendahnya IPM di Indonesia sangat dipengaruhi oleh rendahnya status gizi dan kesehatan penduduk (Dinkes, 2009).
Gizi yang baik adalah gizi yang seimbang, artinya asupan zat gizi harus sesuai dengan kebutuhan tubuh. Kebutuhan nutrisi pada setiap orang berbeda- beda berdasarkan unsur metabolik dan genetikanya masing-masing (Supariasa, 2002). Keseimbangan zat gizi yang tidak terpenuhi dalam jangka waktu lama dapat membuat seseorang mempunyai status gizi yang buruk (severe malnutrition). Disamping pemenuhan gizi yang baik, tentuu saja makanan yang dikonsumsi haruslah halal. Seperti dalam firman Allah dalam QS. Al-Baqarah Ayat 168 yang artinya : Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu.
Masyarakat menengah ke bawah di Indonesia, yang status ekonomi-sosial nya tergolong kurang ampu hanya berpedoman ‘ yang penting kenyang’. Makanan yang mengenyangkan itu belum tentu mengandung kandungan gizi yang dibutuhkan oleh tubuh setiap harinya. Setiap hari tubuh membutuhkan makanan yang mengandung karbohidrat, lemak, protein, mineral, dan vitamin. Asupan gizi masyarakat Indonesia biasanya hanya terdiri dari karbohidrat, protein, dan lemak. Masyarakat Indonesia terutama kalangan menengah kebawah biasanya tidak terlalu memperhatikan asupan vitamin dan mineral yang terkandung dalam buah-buahan dan sayur. Masyarakat kita biasanya hanya makan dengan nasi dan lauk. Hal ini disebabkan karena tingkat pendapatan yang
rendah yang memaksa mereka hanya makan seadanya.
Makanan yang mengandung gizi yang seimbang dan dalam takaran yang seimbang menyebabkan keseimbangan dalam tubuh terjaga. Asupan gizi yang cukup menyebabkan organ-organ tubuh kita dapat berfungsi dengan maksimal. Bila fungsi tubuh berfungsi dengan maksimal maka aktivitas kita sehari-hari pun dapat berlangsung dengan lancar.
Salah satu organ tubuh yang akan berfungsi dengan maksimal bila mendapat asupan gizi yang seimbang adalah otak. Dengan maksimalnya fungsi otak maka kita dapat menjalankann fungsi otak dengan berfikir secara optimal. Otak yang berfungsi dengan maksimal menyebabkan daya ingat otak semakin meningkat dan kecerdasan semakin meningkat.
Dengan meningkatnya kecerdasan maka prestasi siswa pun dapat semakin meningkat. Meningkatnya tingkat kecerdasan siswa melalui asupan gizi yang seimbang dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang ada seperti kemampuan berpikir kritis siswa. Otak yang berfungsi dengan maksimal membuat proses pembelajaran kondusif sehingga siswa menghiraukan penjelasan guru pada saat pembelajaran yang sangat efektif untuk melatih kemampuan berpikir siswa.
Salah satu cara untuk menilai perkembangan anak pada masa kanak- kanak pertengahan (6-12 tahun) ini adalah dengan m e n i l a i k e c e r d a s a n s i s w , a g a r s e o r a n g g u r u m e n g e t a h u i f u n g s i o t a k u n t u k b e r f i k i r s e c a r a m a k s i m a l . K e c e r d a s a n / i ntelegensi didefinisikan sebagai bentuk kemampuan seseorang dalam memperoleh pengetahuan (mempelajari dan memahami), mengaplikasikan pengetahuan (memecahkan masalah), serta berfikir abstrak. Kecerdasan ini diatur oleh bagian korteks otak yang dapat memberikan kemampuan untuk berhitung, beranalogi, berimajinasi, dan memiliki daya kreasi serta inovasi (Boeree, 2003).
Faktor terpenting dalam penyiapan generasi muda di masa depan adalah mentalitas yang harus dibangun sedini mungkin. Perkembangan mental bukanlah hal yang mudah, namun juga tidak sulit jika dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan. Konsistensi seluruh elemen masyarakat diyakini akan membuat anak-anak siap menghadapi masa depan.
Tinggi rendahnya tingkat kecerdasan anak dapat dipengaruhi oleh banyak faktor. Secara garis besar, faktor-faktor tersebut dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu: (1) faktor genetik; (2) faktor gizi; dan (3) faktor lingkungan (Boeree, 2003).
Guru perlu mengetahui tentang pendidikan gizi karena memiliki peran penting untuk dapat mengajarkan muridnya melakukan hidup sehat melalui makanan serta perlunya gizi seimbang.
Sebagai pendidik, seorang guru diharapkan dapat mengetahui makanan yang dikonsumsi oleh peserta didiknya, apakah itu makanan yang kaya akan zat gizi, ataupun tidak, demi menunjang kecerdasan peserta didiknya.
B. Identifikasi Masalah
Identifikasi masalah yang dikemukakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Masyarakat Indonesia yang kurang memperhatikan asupan gizi yang mereka konsumsi, karena status sosial-ekonomi mereka yang kebanyakan berpendapatan rendah.
2. Adanya hubungan antara status gizi dengan tingkat kecerdasan pada anak usia sekolah dasar
3. Selain status gizi, status sosial-ekonomi orang tua juga berhubungan dengan tingkat kecerdasan anak
C. Fokus Penelitian
Penelitian ini difokuskan kepada siswa siswi SDN Siwarak Wetan Kecamatan Tambak Kabupaten Banyumas Tahun Pelajaran 2020/2021
D. RUMUSAN MASALAH
Adakah hubungan status gizi yang dikonsumsi dengan tingkat kecerdasan pada anak usia sekolah dasar ditinjau dari status sosial- ekonomi orang tua ?
E. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui hubungan antara status gizi dengan tingkat kecerdasan pada anak usia sekolah dasar.
2. Untuk mengetahui hubungan faktor lain yaitu status sosial-ekonomi orang tua dengan tingkat kecerdasan anak.
3. Untuk mengetahui faktor yang mempunyai hubungan paling kuat dengan tingkat kecerdasan anak.
4. Agar terjadi peningkatan gizi yang dikonsumsi siswa per harinya.
5. Dapat meningkatkan k ecerdasan siswa karena kandungan gizi yang dikonsumsi Memenuhi 4 Sehat 5 sempurna.
F. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan sumbangan ilmu pengetahuan yang terkait dengan hubungan antara gizi yang dikonsumsi dengan tingkat kecerdasan ditinjau dari tingkat sosial-ekonomi orang tua siswa.
2. Manfaat praktis
a. Bagi orang tua
Memberikan masukan kepada orang tua bahwa kandungan gizi yang seimbang dapat meningkatkan kecerdasan.
b. Bagi siswa
Kecerdasan siswa dapat meningkat karena kandungan gizi yang dikonsumsi setiap hari meningkat.
3. Manfaat Aplikatif
Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran para orang tua akan pentingnya pemenuhan kebutuhan gizi dan pemantauan status gizi yang mendukung kecerdasan anak. Bagi pihak sekolah sebagai fasilitator pendidikan, penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan dalam mengambil kebijakan sekolah yang berhubungan dengan upaya peningkatan kecerdasan siswa. Bagi praktisi kesehatan, penelitian ini dapat menjadi bahan rujukan dalam usaha perbaikan pelayanan gizi demi menunjang perkembangan kecerdasan anak.
BAB II
LANDASAN TEORI, KERANGKA BERFIKIR, DAN PENGAJUAN HIPOTESIS
A. LANDASAN TEORI
1. Status Gizi
Istilah gizi dapat diartikan sebagai proses dari organisme dalam menggunakan bahan makanan melalui proses pencernaan, penyerapan, transportasi, penyimpanan, metabolisme dan pembuangan, yang dipergunakan untuk pemeliharaan hidup, pertumbuhan fungsi organ tubuh dan produksi (Jelliffe, 1989).
Status gizi adalah tanda-tanda atau penampilan fisik yang diakibatkan karena adanya keseimbangan antara pemasukan gizi di satu pihak serta pengeluaran di lain pihak yang terlihat melalui variabel-variabel tertentu yaitu melalui suatu indikator status gizi (Jelliffe, 1989). Menurut Jahari (1988) status gizi adalah tingkat kecukupan dan penggunaan satu nutrien atau lebih yang mempengaruhi kesehatan seseorang, sedangkan menurut Soekirman (2000) status gizi diartikan sebagai keadaan kesehatan fisik seseorang atau sekelompok orang yang ditentukan dengan salah satu atau kombinasi dari ukuran-ukuran gizi tertentu.
Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa status gizi merupakan suatu ukuran keseimbangan antara kebutuhan dan masukan nutrisi yang diindikasikan oleh variabel tertentu.
Status gizi optimal adalah keseimbangan antara asupan zat gizi dengan kebutuhan zat gizi yang digunakan untuk aktivitas sehari-hari (Coitinho, 1992). Status gizi baik atau optimal terjadi bila tubuh memperoleh cukup zat-zat gizi yang digunakan secara efisien sehingga memungkinkan pertumbuhan fisik, perkembangan otak, kemampuan kerja dan kesehatan secara umum. Status gizi
lebih terjadi bila tubuh memperoleh zat-zat gizi dalam jumlah berlebihan, sedangkan status gizi kurang terjadi bila tubuh mengalami kekurangan satu atau lebih zat-zat gizi esensial. Status gizi seseorang dipengaruhi oleh konsumsi makan yang bergantung pada jumlah dan jenis pangan yang dibeli, pemasukan, distribusi dalam keluarga dan kebiasaan makan secara perorangan (Almatsier, 2001). Dengan demikian, asupan zat gizi mempengaruhi status gizi seseorang. Selain asupan zat gizi, infeksi juga ikut mempengaruhi status gizi. Masalah kurangnya asupan zat gizi dan adanya penyakit infeksi biasanya merupakan penyebab utama (Mahan, 1998).
Pada masa anak usia sekolah dasar, yaitu anak usia 6-12 tahun banyak berhubungan dengan orang-orang di luar keluarganya dan berkenalan dengan suasana serta lingkungan baru dalam kehidupannya. Pada usia ini, anak mempunyai banyak aktivitas di luar rumah sehingga terkadang melupakan waktu makan. Selain itu, anak juga sudah aktif memilih makanan yang disukai sehingga dapat mempengaruhi kebiasaaan makan mereka dan akhirnya dapat mempengaruhi status gizinya (Moehji, 1992).
Dengan meningkatnya kebutuhan akan zat gizi pada usia sekolah, misalnya untuk melaksanakan tugas atau berjalan jauh yang membutuhkan energi lebih besar daripada anak yang lebih muda, akan membuat anak usia sekolah menjadi berisiko tinggi menderita malnutrisi atau kelaparan dibandingkan anak usia 3-5 tahun (Rosner, 1990).
Faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi, menurut Soekirman (2000), faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi terdiri dari penyebab langsung dan tidak langsung.
1) Penyebab langsung, yaitu:
a) Asupan makanan
b) Penyakit infeksi yang mungkin diderita
Timbulnya gizi kurang tidak hanya dikarenakan makanan yang kurang tetapi juga karena penyakit. Anak yang mendapat makanan cukup baik tetapi sering diserang diare atau demam akhirnya dapat menderita kurang gizi. Sebaliknya, anak yang mendapat makanan tidak cukup baik, daya tahan tubuhnya dapat melemah. Dalam keadaan demikian mudah terserang infeksi, kurang nafsu makan, dan akhirnya berakibat kurang gizi.
2) Penyebab tidak langsung, yaitu :
a) Ketahanan pangan keluarga, yaitu kemampuan keluarga untuk memenuhi kebutuhan pangan seluruh anggota keluarga dalam jumlah yang cukup dan baik mutu gizinya. Ketahanan pangan keluarga mencakup ketersediaan pangan baik dari hasil produksi sendiri maupun dari sumber lain atau pasar, harga pangan dan daya beli keluarga serta pengetahuan tentang gizi dan kesehatan.
b) Pola pengasuhan anak, meliputi sikap dan perilaku dalam keluarga atau pengaruh lain dalam hal kedekatannya dengan anak, memberikan makan, merawat, menjaga kebersihan, memberi kasih sayang, dan sebagainya.
c) Pelayanan kesehatan dan sanitasi lingkungan, yaitu akses dan keterjangkauan anak dan keluarga terhadap air bersih dan pelayanan kesehatan yang baik seperti imunisasi, pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan, penimbangan anak, pendidikan kesehatan dan gizi serta sarana kesehatan yang baik. Semakin baik ketersediaan air bersih yang cukup untuk keluarga serta semakin dekat jangkauan keluarga terhadap pelayanan dan sarana kesehatan, ditambah peningkatan pemahaman ibu tentang kesehatan, semakin kecil risiko anak terkena penyakit dan kekurangan gizi.
Cara melakukan penilaian status gizi pada kelompok masyarakat, salah satunya adalah dengan pengukuran tubuh manusia yang dikenal dengan antropometri. Dalam pemakaian untuk penilaian status gizi, antropometri disajikan dalam bentuk indeks yang dikaitkan dengan variabel lain. Variabel tersebut adalah sebagai berikut :
1) Umur
Umur sangat memegang peranan dalam penentuan status gizi. Kesalahan penentuan akan menyebabkan interpretasi status gizi yang salah. Hasil penimbangan berat badan maupun tinggi badan yang akurat, menjadi tidak berarti bila tidak disertai dengan penentuan umur yang tepat. Kesalahan yang sering muncul adalah adanya kecenderungan untuk memilih angka yang mudah seperti 1 tahun; 1,5 tahun; 2 tahun. Oleh sebab itu, penentuan umur anak perlu dihitung dengan cermat. Ketentuan yang dipakai yaitu 1 tahun adalah 12 bulan, 1 bulan adalah 30 hari. Bila jumlah hari kurang dari 15, dibulatkan ke bawah dan bila jumlah hari lebih dari 15 dibulatkan ke atas (Depkes RI, 2004).
2) Berat Badan
Berat badan merupakan salah satu ukuran yang memberikan gambaran massa jaringan, termasuk cairan tubuh. Berat badan sangat peka terhadap perubahan yang mendadak baik karena penyakit infeksi maupun konsumsi makanan yang menurun. Berat badan dinyatakan dalam bentuk Indeks BB/U (Berat Badan menurut Umur) atau melakukan penilaian dengan melihat perubahan berat badan pada saat pengukuran dilakukan, yang dalam penggunaannya memberikan gambaran keadaan kini. Berat badan paling banyak digunakan karena hanya memerlukan satu pengukuran, hanya saja tergantung pada ketepatan umur, sehingga kurang dapat menggambarkan kecenderungan perubahan status gizi dari waktu ke waktu (Abunain, 1990).
3) Tinggi Badan
Tinggi badan memberikan gambaran fungsi pertumbuhan yang dilihat dari keadaan kurus kering dan kecil pendek. Tinggi badan sangat baik untuk melihat keadaan gizi masa lalu terutama yang berkaitan dengan keadaan berat badan lahir rendah dan kurang gizi pada masa balita. Tinggi badan dinyatakan dalam bentuk Indeks TB/U (tinggi badan menurut umur), atau juga Indeks BB/TB (Berat Badan menurut Tinggi Badan). Keadaan indeks ini pada umumnya memberikan gambaran keadaan lingkungan yang tidak baik, kemiskinan dan akibat tidak sehat
yang menahun. Selain itu, indeks ini dapat menggambarkan kecenderungan perubahan status gizi dari waktu ke waktu (Depkes RI, 2004).
Berat badan dan tinggi badan adalah parameter penting untuk menentukan status kesehatan manusia, khususnya yang berhubungan dengan status gizi. Penggunaan Indeks BB/U, TB/U dan BB/TB merupakan indikator status gizi untuk melihat adanya gangguan fungsi pertumbuhan dan komposisi tubuh (Khumaidi, 1994).
Berdasarkan baku rujukan antropometri menurut Centers for Disease Control (CDC) tahun 2000 untuk menentukan klasifikasi status gizi digunakan z- score sebagai batas ambang. Penilaian gizi anak-anak di negara-negara yang populasinya relatif baik (well nourished), sebaiknya menggunakan persentile, sedangkan untuk gizi anak-anak di negara yang populasinya relatif kurang (under nourished) lebih baik menggunakan skor simpang baku (SSB) sebagai persen terhadap median baku rujukan (Abunain, 1990).
Makanan Bergizi Seimbang adalah makanan beraneka ragam yang dikonsumsi dalam satu hari yang mengandunmg zat tenaga, zat pembangun, dan zat pengatur sesuai dengan kebutuhan tubuh. Zat tenaga berasal dari karbohidrat dan lemak. Sumber karbohidrat: beras, sagu, jagung, ubi, singkong, roti, sukun, gula murni, dan padanannya. Zat pembangun dari protein. Sumber protein hewani: daging, ikan, ayam, hati, telur, susu, dan hasil olahannya. Sumber protein nabati: tempe, tahu, kacang-kacangan dan padanannya. Zat pengatur dari vitamin dan mineral. Sumber vitamin dan mineral banyak pada sayuran dan buah-buahan. (http://www.eurekaindonesia.org/makanan-bergizi-seimbang/)
Makanan bergizi adalah makanan yang cukup kualitas dan kuantitasnya serta mengandung unsur yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan. Makanan adalah dikatakan sehat jika makanan itu mengandung protein karbohidrat, miniral, lemak, dan bervitamin. Makanan yang sehat sangatlah berguna untuk membina tubuh bahkan mengganti sel-sel tubuh yang sudah rusak, dilain hal makanan juga akan menghasilkan panas dan energi
didalam tubuh kita. Protein, Mineral, air, makanan yang mengandung unsur ini berperan penting didalam membangun sel jaringan tubuh, kemudian karbohidrat dan lemak unsur yang berguna untuk memberi tenaga sehingga kita dapat melakukan aktivitas sehari-hari. Vitamin dan Mineral juga sangat penting bagi tubuh, unsur ini berperan dalam pengatur pekerjaan jaringan tubuh. Unsur-unsur makanan yang dikomsumsi seharusnya diperhatikan jumlah keseimbangannya sesuai dengan kebutuhan tubuh seseorang. Protein dapat dijumpai seperti pada protein hewani misalnya pada makanan ikan, daging dan telur sedangkan protein nabati terdapat pada tumbuh-tumbuhan yakni tahu, tempe dan kacang-kacangan. Lemak juga berguna untuk penghasil panas dan energi seperti sama halnya dengan karbohidrat karena lemak dapat disimpan dalam tubuh sebagai cadangan persediaan energi, dan lemak makanan dapat dijumpai pada hewan, susu, keju, dan kuning telur, ada juga dari tumbuh-tumbuhan seperti minyak kelapa, kacang serta jagung. Selain itu tubuh kita juga memerlukan air, di dalam tubuh air sangat berguna sebagai pelarut membantu proses kimiawi saluran pencernaan, mempertahankan konsentrasi garam dalam jaringan tubuh. (http://bersamatoba.com/tobasa/opini/ketauilah-apa-itu-makanan-bergizi.html)
Makanan merupakan suatu kebutuhan yang sangat penting bagi kehidupan karena dari makanan manusia mendapatkan sumber tenaga atau kekuatan untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Oleh sebab, itu perlu diperhatikan jenis dan mutu makanan yang dikonsumsi yaitu:
a. Tinggi serat
b. Rendah lemak
c. Mengandung gizi seimbang
Makanan Bergizi Seimbang adalah makanan beraneka ragam yang dikonsumsi dalam satu hari yang mengandunmg zat tenaga, zat pembangun, dan zat pengatur sesuai dengan kebutuhan tubuh. Zat tenaga berasal dari karbohidrat dan lemak. Sumber karbohidrat: beras, sagu, jagung, ubi, singkong, roti, sukun, gula murni, dan padanannya. Zat pembangun dari protein. Sumber protein hewani:
daging, ikan, ayam, hati, telur, susu, dan hasil olahannya. Sumber protein nabati: tempe, tahu, kacang-kacangan dan padanannya. Zat pengatur dari vitamin dan mineral. Sumber vitamin dan mineral banyak pada sayuran dan buah-buahan. (http://adaaja.com/pengertian-makanan-bergizi/)
Konsep gizi sebagai ilmu pengetahuan/ Sains dikaitkan dengan kesehatan tubuh, yaitu menyediakan energi, membangun dan memelihara jaringan tubuh serta mengatur proses-proses kehidupan di dalam tubuh. Berkembang dikaitkan dengan potensi ekonomi karenan gizi berkaitan dengan perkembangan otak, kemampuan belajar dan produktivitas kerja ( Ari Yuniastuti, 2008 : 2) .
Islam menuntun agar setiap muslim mengonsumsi makanan seimbang dan ideal bagi tubuh sembari bersyukur kepada Allah Ta’ala atas semua nikmat makanan yang diberikan-Nya. "Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah." (Al Baqarah:172). Dengan mengonsumsi makanan yang baik dan halal, maka akan sangat berpengaruh pada kecerdasan seorang hamba. Mengerjakan perintah dan menjauhi larangan-Nya kecerdasan akan mudah diserap karena tubuhnya bersih dari makanan kotor dan haram.
Secara singkat, makanan bergizi dapat diartikan sebagai makanan yang mengandung zat-zat yang berguna bagi tubuh yaitu zat tenaga, zat pembangun, dan zat pengatur. Zat tenaga terdapat dalam makanan yang mengandung misalnya nasi atau roti, zat pembangun terdapat dalam makanan yang mengandung protein baik protein hewani maupun protein nabati,sedangkan zat pengatur terdapat pada makanan yang mengandung vitamin dan mineral. Selain itu makanan yang mengandung serat dan rendah lemak juga baik bagi kesehatan tubuh.
2. Kecerdasan/Intelegensi
Intelegensi berasal dari bahasa Inggris “Intelligence” yang juga berasal dari bahasa Latin yaitu “Intellectus dan Intelligentia”. Teori tentang intelegensi pertama kali dikemukakan oleh Spearman dan Wynn Jones Pol pada tahun 1951. Spearman dan Wynn mengemukakan adanya konsep lama mengenai suatu kekuatan (power) yang dapat melengkapi akal pikiran manusia tunggal pengetahuan sejati. Kekuatan tersebut dalam bahasa Yunani disebut dengan “Nous”, sedangkan penggunaan kekuatannya disebut “Noeseis”.
Alfred Binet, tokoh perintis pengukuran intelegensi mendefinisikan intelegensi terdiri dari tiga komponen, yaitu :
a) Kemampuan untuk mengarahkan pikiran dan tindakan
b) Kemampuan untuk mengubah arah tindakan setelah tindakan tersebut dilaksanakan
c) Kemampuan untuk mengkritik diri sendiri atau melakukan auto criticism
Super dan Cities mendefinisikan intelegensi sebagai kemampuan menyesuaikan diri terhadap lingkungan atau belajar dari pengalaman.
J. P. Guilford menjelaskan bahwa tes inteligensi hanya dirancang untuk mengukur proses berpikir yang bersifat konvergen, yaitu kemampuan untuk memberikan satu jawaban atau kesimpulan yang logis berdasarkan informasi yang diberikan. Sedangkan kreativitas adalah suatu proses berpikir yang bersifat divergen, yaitu kemampuan untuk memberikan berbagai alternatif jawaban berdasarkan informasi yang diberikan. Lebih jauh, Guilford menyatakan bahwa intelegensi merupakan perpaduan dari banyak faktor khusus.
K. Buhler mengatakan bahwa intelegensi adalah perbuatan yang disertai dengan pemahaman atau pengertian. George D. Stoddard (1941) menyebutkan intelegensi sebagai kemampuan untuk memahami masalah-masalah yang bercirikan:
a. Mengandung kesukaran
b. Kompleks
c. Abastrak
d. Diarahkan pada tujuan
e. Ekonomis
f. Bernilai sosial
Garett (1946) mendefinisikan intelegensi setidak-tidaknya mencakup kemampuan-kemampuan yang diperlukan untuk memecahkan masalah-masalah yang memerlukan pengertian serta menggunakan simbol-simbol.
Bischof, psikolog Amerika (1954) mendefinisikan kemampuan untuk memecahkan segala jenis masalah.
Lewis Hedison Terman memberikan pengertian intelegensi sebagai kemampuan untuk berfikir secara abstrak dengan baik (lih. Hariman, 1958).
David Wechsler (1958) mendefinisikan inteligensi sebagai kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif.
Thorndike (lih. Skinner, 1959) sebagai seorang tokoh koneksionisme mengemukakan pendapatnya bahwa orang dianggap intelegen apabila responnya merupakan respon yang baik atau sesuai terhadap stimulus yang diterimanya.
Freeman (1959) memandang intelegensi sebagai :
a) Kemampuan untuk menyatukan pengalaman-pengalaman.
b) Kemampuan untuk belajar dengan lebih baik.
c) Kemampuan untuk menyelesaikan tugas-tugas yang sulit dengan memperhatikan aspek psikologis dan intelektual, dan
d) Kemampuan untuk berpikir abstrak.
Kecerdasan ialah istilah umum yang digunakan untuk menjelaskan sifat pikiran yang mencakup sejumlah kemampuan, seperti kemampuan menalar, merencanakan, memecahkan masalah, berpikir abstrak, memahami gagasan, menggunakan bahasa, dan belajar. Kecerdasan erat kaitannya dengan kemampuan kognitif yang dimiliki oleh individu. Kecerdasan dapat diukur dengan menggunakan alat psikometri yang biasa disebut sebagai tes IQ. Ada juga pendapat yang menyatakan bahwa IQ merupakan usia mental yang dimiliki manusia berdasarkan perbandingan usia kronologis. Terdapat beberapa cara untuk mendefinisikan kecerdasan. Dalam beberapa kasus, kecerdasan bisa termasuk kreativitas, kepribadian, watak, pengetahuan, atau kebijaksanaan. Namun, beberapa psikolog tak memasukkan hal-hal tadi dalam kerangka definisi kecerdasan. Kecerdasan biasanya merujuk pada kemampuan atau kapasitas mental dalam berpikir, namun belum terdapat definisi yang memuaskan mengenai kecerdasan. Stenberg& Slater (1982) mendefinisikannya sebagai tindakan atau pemikiran yang bertujuan dan adaptif. (http://id.wikipedia.org/wiki/Kecerdasan)
Tinggi rendahnya kecerdasan seorang anak dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Secara garis besar, kecerdasan dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu:
1) Faktor Genetik
Kecerdasan dapat diturunkan melalui gen-gen dalam kromosom. Oleh karena itu, tidak heran jika ayah-ibu yang cerdas akan melahirkan anak yang cerdas pula (Boeree, 2003).
2) Faktor Gizi
Gizi yang baik sangat penting untuk pertumbuhan sel-sel otak, terutama pada saat hamil dan juga pada waktu bayi, di mana sel-sel otak sedang tumbuh dengan pesatnya. Kekurangan gizi pada saat pertumbuhan, bisa berakibat berkurangnya jumlah sel-sel otak dari jumlah yang normal. Hal ini tentu saja akan mempengaruhi kerja otak tersebut di kemudian hari. Penelitian yang
dilakukan oleh Wibowo et al. (1995), telah membuktikan bahwa status gizi anak mempunyai dampak positif terhadap inteligensinya.
3) Faktor Lingkungan
Lingkungan yang baik adalah lingkungan yang dapat memberikan kebutuhan mental bagi si anak. Kebutuhan mental meliputi kasih sayang, rasa aman, pengertian, perhatian, penghargaan serta rangsangan intelektual. Kekurangan rangsangan intelektual pada masa bayi dan balita dapat menyebabkan hambatan pada perkembangan kecerdasannya. Faktor lingkungan lain yang juga mempunyai efek positif terhadap kecerdasan anak antara lain: hubungan orang tua dan anak, tingkat pedidikan ibu, dan riwayat sosial-budaya (Wibowo et al., 1995). Menurut Mc Wayne (2004), anak yang tumbuh dengan penghasilan orang tua yang rendah mempunyai risiko tertundanya perkembangan kognitif yang lebih tinggi dibandingkan anak yang tumbuh dengan penghasilan orang tua yang tinggi.
Sebagian besar peneliti setuju bahwa faktor genetik bukanlah penentu utama kecerdasan. Meskipun dukungan genetik mempengaruhi intelektual seseorang, namun pengaruh lingkungan dan kesempatan yang tersedia bagi anak juga dapat mengubah skor IQ mereka secara signifikan (Santrock, 2007). Telah dibuktikan dalam beberapa penelitian, bahwa anak-anak yang diberi suplemen gizi protein selama beberapa tahun, meskipun tingkat sosial ekonomi orang tuanya rendah, menunjukkan peningkatan kinerja dalam tes kecerdasan, dibandingkan dengan kelompok anak yang tidak diberikan suplemen gizi protein (Neisser et al., 1996).
3. Status Sosial-Ekonomi Orang Tua
Keadaan sosial ekonomi keluarga merupakan salah satu faktor yang menentukan jumlah makanan yang tersedia dalam keluarga sehingga turut menentukan status gizi keluarga tersebut. Yang termasuk dalam faktor sosial adalah (Supariasa, 2002):
a) Keadaan penduduk suatu masyarakat
b) Keadaan keluarga
c) Tingkat pendidikan orang tua
d) Keadaan rumah.
Sedangkan data ekonomi dari faktor sosial ekonomi meliputi :
a) Pekerjaan orang tua
b) Pendapatan keluarga
c) Pengeluaran keluarga
d) Harga makanan yang tergantung pada pasar dan variasi musim.
Banyak faktor sosial ekonomi yang sukar untuk dinilai secara kuantitatif, khususnya pendapatan dan kepemilikan (barang berharga, tanah, ternak) karena masyarakat enggan untuk membicarakannya kepada orang yang tidak dikenal, termasuk ketakutan akan pajak dan perampokan. Tingkat pedidikan termasuk dalam faktor sosial ekonomi karena tingkat pendidikan berhubungan dengan status gizi yaitu dengan meningkatkan pendidikan kemungkinan akan dapat meningkatkan pendapatan sehingga meningkatkan daya beli makanan untuk mencukupi kebutuhan gizi keluarga (Achadi, 2007).
Kurangnya pemberdayaan keluarga dan pemanfatan sumber daya masyarakat mempengaruhi faktor sosial ekonomi keluarga, termasuk kurangnya pemberdayaan wanita dan tingkat pendidikan dan pengetahuan orang tua khususnya ibu dalam mengasuh anaknya juga termasuk faktor sosial ekonomi yang akan mempengaruhi status gizi keluarga (Tohar, 2005).
Anak membutuhkan nutrisi lebih banyak untuk pertumbuhan tulang, gigi, otot, dan darah. Ditambah lagi dengan berbagai masalah yang menyertai pertumbuhannya, seperti anak mulai memilih-milih makanan sesuai keinginannya, atau pengaruh teman dan iklan di media massa. Anak memiliki risiko malnutrisi
apabila kebutuhan nutrisi yang menunjang proses tumbuh kembangnya tidak tercukupi dengan baik.
Hubungan orang tua dan anak, status gizi yang dikonsumsi, dan riwayat sosial-budaya juga memberikan efek positif terhadap kecerdasan (Wibowo et al., 1995). Penghasilan orang tua yang rendah menyebabkan terhambatnya perkembangan kognitif anak (Mc Wayne, 2004).
B. KERANGKA BERFIKIR
Pengaruh gizi terhadap perkembangan proses biologis di otak, apabila makanan tidak cukup mengandung zat-zat gizi yang dibutuhkan, dan keadaan ini berlangsung lama, akan menyebabkan perubahan metabolisme dalam otak, berakibat terjadi ketidakmampuan berfungsi normal. Faktor Genetik dan status sosial ekonomi-orang tua juga mempengaruhi, keadaan ini berpengaruh terhadap perkembangan kecerdasan anak. Faktor pendapatan masyarakat Indonesia yang umumnya rendah menyebabkan asupan gizi yang dikonsumsi masyarakat
Indonesia tidak memenuhi standar gizi yang dianjurkan. Kondisi seperti ini menyebabkan masyarakat Indonesia menjadi rentan terhadap berbagai macam penyakit yang disebabkan oleh kekurangan asupan gizi yang seimbang. Dan Kita bisa mengukur kecerdasan anak melalui tes kecerdasan/intelegensi.
Jika makanan yang dikonsumsi siswa SDN 1 Kasegeran Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas Tahun Pelajaran 2020/2021 mengandung kandungan gizi yang seimbang, maka tingkat kecerdasan siswa SDN 1 Kasegeran Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas Tahun Pelajaran 2020/2021 akan meningkat.
Dengan kecerdasan ynag meningkat, prestasi siswa pun akan meningkat. Hal ini berguna bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia di Indonesia. Dengan adanya peningkatan kualitas sumber daya manusia maka bangsa Indonesia pun dapat mampu bersaing di dunia Internasional.
C. HIPOTESIS PENELITIAN
Ada pengaruh antara kandungan gizi yang terdapat dalam makanann yang dikonsumsi SDN Siwarak Wetan Kecamatan Tambak Kabupaten Banyumas Tahun Pelajaran 2020/2021 dengan tingkat kecerdasan siswa SDN Siwarak Wetan Kecamatan Tambak Kabupaten Banyumas Tahun Pelajaran 2020/2021
BAB III PROSEDUR PENELITIAN
A. Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan jenis penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional yang mengkaji hubungan status gizi dengan tingkat kecerdasan intelektual (IQ) pada anak usia sekolah dasar dengan mempertimbangkan tingkat pendidikan ibu dan status ekonomi orang tua.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini guna menjawab rumusan masalah dan menguji hipotesis adalah metode kuantitatif survey. Metode penelitian merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu (Sugiyono, 2009 : 2). Metode kuantitatif menurut Sugiyono (2009 : 7) disebut sebagai metode positivistik karena berlandasan pada filsafat positivisme. Metode ini sebagai metode ilmiah/scientific karena telah memenuhi kaidah-kaidah ilmiah yaitu kongkrit/empiris, obyektif, terukur, dan sistematis. Jenis-jenis penelitian dapat diklasifikasikan berdasarkan tujuan dan tingkat kealamian obyek yang diteliti. Berdasarkan tingat kealamian, Sugiyono (2009:4) mengelompokkan mejadi metode penelitian eksperimen, survey, dan naturalistik.
B. Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi Penelitian
Penelitian ini mengambil tempat di SDN Siwarak Wetan Kecamatan Tambak Kabupaten Banyumas. Alasan dipilihnya sekolah dasar ini adalah:
a) Lokasi tempat peneliti bekerja, sehingga diharapkan distribusi data dapat merata.
b) Tersedianya data yang dibutuhkan untuk penelitian.
c) Kemudahan dalam hal perijinan.
Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada semester I tahun pelajaran 2020/2021
C. Populasi Dan Sampel
1. Populasi
Populasi yang akan diteliti adalah siswa SDN Siwarak Wetan Kecamatan Tambak Kabupaten Banyumas beserta keluarganya yang dalam hal ini mencakup kedua orang tua untuk mengetahui status sosial-ekonominya. Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya ( Sugiyono, 2009 :80 ).
2. Sampel
Sampel yang digunakan sebagai sumber data akan diambil dari siswa SDN Siwarak Wetan Kecamatan Tambak Kabupaten Banyumas. Sampel menurut Sugiyono (2009:80) adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut dan benar-benar mewakili populasi (representatif). Sampel akan diambil dengan teknik probability sampling dan dengan cara simple random sampling. Probability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang
memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk menjadi anggota sampel. Simpel Random Sampling dipelih karena pengambilan anggota sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu. Cara demikian dilakukan karena anggota populasi dianggap homogen (Sugiyono, 2009 : 82).
C. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian untuk mengukur kecerdasan siswa menggunakan instrumen yang berupa uji/tes kecerdasan. Untuk instrumen penelitian dari kandungan gizi, kami menggunakan pedoman gizi dari makanan yang mngandung 4 sehat 5 sempurna dan tabel kandungan gizi makanan. Instrumen penelitian menurut Sugiyono (2009 : 92) adalah instrumen yang digunakan untuk melakukan pengukuran dengan tujuan menghasilkan data kuantitatif yang akurat, sehingga setiap unstrumen harus memiliki skala.
D. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang akan digunakan adalah test dan observasi. Test yang dipergunakan untuk pengumpulan data adalah tes IQ, test ini dilakukan guna mengetahui tingkat kecerdasan/intelegensi siswa. Observasi yang akan dilakukan adalah teknik observasi yang dalam proses pelaksanaannya bersifat non partisipant observation dalam hal ini peneliti tidak terlibat secara langsung tetapi hanya bertindak sebagai pengamat independen. Observasi adalah teknik pengumpulan data yang mempunyai ciri yang spesifik bila dibandingkan dengan teknik yang lain, wawancara dan kuisioner. Sutrisno Hadi (1986) observasi adalah suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari pelbagai proses biologis dan psikologis 2 diantaranya yang terpenting adalah proses-proses ingatan dan pengamatan (Sugiyono, 2009 : 145).
Dalam penelitian ini menggunakan data primer yang didapatkan dari hasil pengukuran antropometri, skor tes IQ siswa dan sosial-ekonomi orang tua.
Alat dan Instrumen Penelitian
1. Alat ukur tinggi badan microtoise dengan ketelitian 0,1 cm.
2. Tes inteligensi CFIT skala 2 dengan materi tes berupa gambar-gambar sehingga dapat menghindari kerancuan bahasa, budaya, dan tingkat pendidikan.
3. Check list biodata siswa yang berisi data nama, umur, tinggi badan, skor IQ siswa, dan tingkat pendidikan ibu.
4. Daftar isian tentang keadaan sosial-ekonomi keluarga yang diisi oleh orang tua siswa.
Status Sosial-Ekonomi Orang Tua
Didapatkan dari skoring daftar isian/kuesioner yang diisi oleh orang tua siswa. Kuesioner berisi 15 pertanyaan pilihan ganda. Pilihan a bernilai 1, pilihan b bernilai 2, dan pilihan c bernilai 3. Skoring berdasarkan penjumlahan nilai dari 15 pertanyaan tersebut, sehingga skor tertinggi yang dapat diperoleh adalah 45 dan skor terendah adalah 15. Dari total skor yang diperoleh, kemudian dikategorikan dengan tingkatan sebagai berikut (Bardosono, 2009) :
a) skor < 27 Status sosial-ekonomi rendah
b) skor antara 27-36 Status sosial-ekonomi menengah
c) skor > 36 Status sosial-ekonomi tinggi.
E. Teknik Analisis Data
Analisis data merupakan kegiatan setelah data dari seluruh responden/sumber data lain terkumpul (Sugiyono, 2009 : 147). Teknik analisis data yang akan dipergunakan dalam penelitian ini adalah statistik parametris. Statistik parametris digunakan untuk menguji ukuran populasi melalui data sampel. Pengertian dari statistik adalah data yang diperoleh dari sampel (Sugiyono, 2009 : 149). Teknik ini digunakan untuk menjawab rumusan masalah yang telah disusun dan menguji hipotesis yang telah dirumuskan.
DAFTAR PUSTAKA
https://www.atlantis-press.com/proceedings/aecon-18/55908966 (Ana Andriani, Badarudin Badarudin, Agung Nugroho)
https://www.jurnal.unma.ac.id/index.php/jee/article/view/1496 (Tantin Noor Aida, Subuh Anggoro, Ana Andriani)
http://jurnal.staiba.ac.id/index.php/samawat/article/download/186/177 https://core.ac.uk/download/pdf/191006214.pdf https://core.ac.uk/download/pdf/160497510.pdf
Centers for Disease Control and Prevention. 2000. CDC growth charts for United States: methods and development.
http://www.cdc.gov/nchs/about/major/nhanes/growthcharts/charts.htm (6 Mei
2010).
Abunain, D. 1990. Aplikasi Antropometri sebagai Alat Ukur Status Gizi. Puslitbang Gizi Bogor, pp: 23-30.
Achadi, E. 2007. Gizi dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, pp: 21-34.
Depkes RI. 2002. Pedoman Umum Gizi Seimbang. Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat. Jakarta.
Depkes RI. 2004. Analisis Situasi Gizi dan Kesehatan Masyarakat. Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Direktorat Gizi Masyarakat Jakarta.
Abidin, Muhammad Zainal. 2010. Kajian tentang Intelegensi. http://meetabied.wordpress.com/2009/10/31/kajian-tentang-intelegensi/. 26 April.
Ada aja. 2010. Pengertian Makanan Bergizi. http://adaaja.com/pengertian- makanan-bergizi/. 26 April.
Amir, Ida Ruslita. 2010. Kenali Makanan Bergizi sejak Dini. http://lifestyle.okezone.com/read/2009/12/26/27/288300/27/kenali-makanan- bergizi-sejak-dini . 26 April.
Bersama Toba. 2010. Ketahuilah, apa itu makanan ‘bergizi’. http://bersamatoba.com/tobasa/opini/ketauilah-apa-itu-makanan-bergizi.html . 26 April.
Fadli Yanur. 2010. Intelegensi. http://fadliyanur.blogspot.com/2008/02/intelegensi.html. 26 April.
Mayn, Hek de. 2010. Intelegensi dan IQ. http://kentanks.blogspirit.com/archive/2006/03/04/intelegensi-dan-iq.html. 26 April.
Riny Yunita. 2010. Kenali Potensi Intelegensi Anda. http://rinyyunita.wordpress.com/2009/01/16/potensi-intelegensi/ . 26 April.
Secapramana, L. Verina H. 2010. Kecerdasan. http://dokter.indo.net.id/emosi.html. 26 April.
Sugiyono. 2009. Penelitian Kuantitatif Kualitatif R&D. Bandung : Alfabeta.
Sutisna Senjaya. 2010. Pengetian Intelegensi. http://sutisna.com/pengetahuan/pengetian-intelegensi/ . 26 April.
Wikipedia. 2010. Definisi Kecerdasan. http://id.wikipedia.org/wiki/Kecerdasan. 26 April.
Yayasan Eureka Indonesia. 2010. Makanan Bergizi Seimbang. http://www.eurekaindonesia.org/makanan-bergizi-seimbang/ . 26 April.
Yuniastuti, Ari. 2008. Gizi dan Kesehatan. Yogyakarta : Graha Ilmu.
Yustha Titik. 2010. 4 sehat 5 sempurna Gizi Seimbang. http://yusthatitik.multiply.com/journal/item/9/4_sehat_5_sempurna_---
_Gizi_Seimbang. 26 April .
PTK DWI SETYANINGSIH
PENINGKATAN HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA
SUBTEMA ANGGOTA KELUARGA MELALUI METODE INQUIRY LEARNING
KELAS 1 SD NEGERI SIWARAK WETAN
Penelitian Tindaka Kelas
( PTK )
Disusun oleh :
DWI SETYANINGSIH,S.Pd
PENINGKATAN HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA SUBTEMA ANGGOTA KELUARGA MELALUI METODE INQUIRY LEARNING
KELAS 1 SD NEGERI SIWARAK WETAN
TAHUN 2020
PERSETUJUAN
Penelitian Tindakan Kelas ini dengan judul Peningkatan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Subtema Anggota Keluarga Melalui Metode Inkuiry Learning pada Siswa Kelas I Sekolah Dasar ini telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan Tim Penguji PTK PPG DALJAB 4 2020 Univesitas Kanjuruhan Malang.
Persetujuan Pembimbing
Pembimbing I Pembimbing II
NURY YUNIASIH,M.Pd LUKITOWATI,S.Pd
NIK .291301301 NIP. 19660427 200501 2 002
PENINGKATAN HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA SUBTEMA ANGGOTA KELUARGA MELALUI METODE INQUIRY LEARNING
KELAS 1 SD NEGERI SIWARAK WETAN
Oleh :
Dwi Setyaningsih,S.Pd
SD Negeri Siwarak Wetan
Abstrak
Kebanyak siswa pelajaran bahasa Indonesia adalah pelajaran yang mudah, akan tetapi pada kenyataannya pelajaran bahasa Indonesia dalah pelajaran yang sulit dikarenakan perlu adanya pemahaman yang perlu ditingkatkan serta banyaknya kosa kata yang mungkin siswa belum memahami cara menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar sesuai EYD dalam pengguanaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Untuk dapat mengatasi tersebut maka metode inkuiry learning dapat membatu dalam peningkatan hasil belajar bahasa Indonesia. Dari hasil yang ditunjukkan dengan nilai rerata hasil observasi terhadap aktivitas siswa pada siklus I sebesar 58,75% pada siklus II sebesar 72,5% dan pada siklus III sebesar 85%. Rerata kemampuan hasil belajar bahasa Indonesia siswa pada kondisi awal 59,06 dengan tingkat ketuntasan klasikal 25%. Pada siklus I, nilai rerata hasil belajar bahasa Indonesia siswa 67,81 dengan tingkat ketuntasan secara klasikal 43,75%. Pada siklus II nilai rerata hasil belajar bahasa Indonesia siswa 71,71 dengan tingkat ketuntasan secara klasikal 68,75%. Pada siklus III nilai rerata hasil belajar bahasa Indonesia siswa 76,81 dengan tingkat ketuntasan secara klasikal 87,5%. Dari hasil pembelajaran tersebut maka metode inkuiry learning dapat membantu dalam hal peningkatan hasil belajar bahasa Indonesia pada khusunya dan pelajaran yang lain pada umumnya.
Kunci : Covid-19, inkuiry learning, hasil belajar, teknologi
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Berlakunya kurikulum 2013 yang merupakan kurikulum berbasis kompetensi sekaligus berbasis karakter bertujuan untuk menghasilkan generasi penerus bangsa yang produktif, kreatif dan inovatif melalui penguatan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang terintegrasi. Keberhasilan implementasi kurikulum 2013 ditentukan oleh berbagai pihak seperti pemerintah, kepemimpinan kepala sekolah, kreativitas guru dan aktivitas peserta didik. Selain itu perubahan kurikulum ini juga menuntut perubahan paradigma dalam pendidikan dan pembelajaran.
Salah satu perubahan paradigma pembelajaran tersebut adalah guru dituntut untuk secara profesional merancang pembelajaran yang efektif, menyenangkan dan bermakna, selain itu guru juga harus dapat mengorganisasikan pembelajaran dan memilih pendekatan pembelajaran yang tepat yaitu dengan pendekatan tematik dan kontekstual. Pendekatan tematik merupakan model pembelajaran dengan menggunakan tema yang dijadikan sebagai payung, artinya siswa mempelajari bidang studi yang berbeda dengan menggunakan sebuah tema. Pembelajaran tematik didasarkan pada konsep tentang proses belajar holistik dimana anak-anak tidak membedakan antara bidang-bidang mata pelajaran. Sedangkan pendekatan kontekstual merupakan suatu pembelajaran yang tidak hanya mempelajari tentang konsep, teori dan fakta tapi juga aplikasi dalam kehidupan sehari- hari.
Pembelajaran dalam implementasi kurikulum 2013 akan tercapai tujuannya secara maksimal apabila tercipta suatu kondisi belajar yang dapat memberikan rasa kebermaknaan bagi peserta didik. Untuk itu, guru harus bijaksana dalam merencanakan pembelajaran dengan menentukan berbagai pendekatan, model, metode, strategi maupun media pembelajaran yang bervariasi agar dapat terlaksana proses pembelajaran yang kondusif dan sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Selain itu, guru harus menyadari bahwa pembelajaran memiliki sifat yang sangat kompleks karena melibatkan aspek pedagogis, psikologis, dan didaktis secara bersamaan. Aspek pedagogis menunjuk pada kenyataan bahwa pembelajaran berlangsung dalam suatu lingkungan pendidikan. Karena itu, guru harus mendampingi peserta didik menuju kesuksesan belajar atau penguasaan sejumlah kompetensi tertentu. Dalam hal ini guru harus menentukan jenis belajar secara tepat manakah yang paling berperan dalam proses pembelajaran tertentu dengan mengingat kompetensi dasar yang harus dicapai. Untuk kepentingan tersebut, guru harus memiliki pengetahuan yang luas mengenai jenis- jenis belajar, kondisi internal dan eksternal peserta didik, serta cara melakukan pembelajaran yang aktif, efektif dan bermakna.
Pembelajaran aktif merupakan suatu bentuk pembelajaran yang lebih banyak melibatkan aktivitas siswa dalam mengakses berbagai informasi dan pengetahuan untuk dibahas dan dikaji dalam proses pembelajaran di kelas, sehingga mereka mendapatkan berbagai pengalaman yang dapat meningkatkan pemahaman dan kompetensinya. Pembelajaran aktif memungkinkan siswa mengembangkan kemampuan berfikir tingkat tinggi, seperti menganalisis dan mensintesis, serta melakukan penilaian terhadap berbagai peristiwa belajar dan menerapkan kehidupan sehari-hari (Rusman, 2011)
Menilik terhadap pernyataan-pernyataan di atas mengenai pelaksanaan pembelajaran dalam kurikulum 2013, peneliti dihadapkan pada kondisi nyata di sekolah dasar yang masih dalam penyesuaian dalam pelaksanaan pembelajaran kurikulum 2013 sehingga proses belajar peserta didik dirasa belum maksimal dan belum menanamkan rasa kebermaknaan bagi siswa dalam proses pembelajaran. Berdasarkan hasil refleksi diri yang peneliti lakukan pada hari Kamis, tanggal 12 November 2020 di SD Negeri Siwarak Wetan, ketidakmaksimalan pembelajaran di kelas 1 terlihat salah satunya dalam pembelajaran Bahasa Indonesi, hal tersebut disebabkan oleh beberapa alasan, yaitu: (1) guru dan siswa masih dalam tahap percobaan dalam menerapkan kurikulum 2013; (2) keterbatasan pengetahuan guru tentang model, metode, dan strategi pembelajaran yang inovatif dan bermakna bagi peserta didik dalam penerapan pembelajaran Bahasa Indonesia, sehingga metode ceramah lebih dominan saat pembelajaran berlangsung; (3) guru belum sepenuhnya menggunakan media yang variatif dan inovatif untuk menunjang proses pembelajaran Bahasa Indonesia; (4) rumitnya pelaksanaan pembelajaran dan penilaian dengan menggunakan model pembelajaran tematik dalam kurikulum 2013. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil belajar Bahasa Indonesia siswa kelas 1 yang masih tergolong rendah dengan nilai rata-rata kelas yaitu 63,85 dimana nilai tersebut belum mencapai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) mata pelajaran Bahasa Indonesia yang telah ditentukan yaitu 70. Siswa yang mencapai KKM sebanyak 5 siswa atau 27,7% dan yang belum mencapai KKM sebanyak 13 siswa atau 72,3% dari jumlah siswa kelas 1 yaitu 18 siswa. Berdasarkan alasan tersebut, maka sangatlah penting bagi para guru memahami karakteristik materi, peserta didik, dan metode pembelajaran dalam proses pembelajaran terutama berkaitan pemilihan terhadap model dan metode pembelajaran yang variatif dan bermakna bagi peserta didik. Dengan demikian proses pembelajaran akan lebih variatif, inovatif, dan konstruktif dalam mengkonstruksi wawasan pengetahuan dan implementasinya sehingga dapat meningkatkan aktivitas, kreativitas, dan prestasi peserta didik.
Berdasarkan uraian di atas, baik guru maupun siswa memerlukan adanya inovasi dalam kegiatan belajar mengajar. Inovasi tersebut dapat berupa penggantian cara penyampaian guru. Guru dalam mengajar menggunakan model pembelajaran yang menarik dan menyenangkan sehingga siswa antusias dalam mengikuti pembelajaran, akan mendorong semangat siswa dalam memahami dan lebih memudahkan siswa menangkap materi pelajaran yang disajikan oleh guru. Selain itu, juga akan merubah paradigma bahwa guru sebagai pusat pembelajaran menjadi siswa yang lebih aktif dan guru menjadi fasilitator serta motivator.
Peningkatan pembelajaran Bahasa Indonesia dapat dilakukan dengan menerapkan metode Inquiry Learning. Menurut Gulo (dalam Al-Tabani, 2014: 78) menyatakan strategi inkuiri berarti suatu rangkaian kegatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuan-penemuannya dengan penuh percaya diri. Menurut Al-Tabani (2014: 147) inkuiri merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis kontekstual. Pengetahuan dan ketersmpilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta, melainkan hasil dari menemukan sendiri.Teknik tersebut merupakan salah satu dari model kooperatif yang mengasyikkan karena siswa dihadapkan pada pada kegiatan mendengarkan apa yang diutarakan temannya ketika sedang berdiskusi secara berpasangan, yang secara tidak langsung siswa akan menyimak apa yang diutarakan oleh temannya tersebut. Setelah itu siswa akan mempresentasikan di depan kelas. Dengan menerapkan metode Inquiry Learning pada pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas 1 SD Negeri Siwarak Wetan maka siswa tidak akan mudah merasa bosan selama kegiatan belajar mengajar berlangsung hingga materi yang diajarkan guru dapat tersampaikan dengan baik dan hasilnya dapat terlihat dari hasil belajar yang meningkat. Dengan penerapan rumusan tersebut siswa juga dituntut untuk aktif dalam kegiatan pembelajaran sehingga siswa akan menemukan sendiri konsep yang akan ia pelajari.
Dari uraian di atas, maka peneliti melakukan penelitian tindakan kelas dengan judul “Peningkatan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Subtema Anggota Keluarga Melalui Metode Inquiry Learning Kelas 1 SD Negeri Siwarak Wetan”
A. Identifikasi Masalah
1. Pembelajaran Bahasa Indosnesia pada kelas 1 SD Negeri Siwarak Wetan belum menggunakan model pembelajaran yang sesuai.
2. Pemilihan pendekatan/strategi pembelajaran belum sesuai dengan tujuan pembelajaran.
3. Belum terlibatnya siswa disaat proses pembelajaran secara aktif.
4. Nilai hasil belajar Bahasa Indonesia siswa kelas 1 SD Negeri Siwarak Wetan belum memuaskan.
5. Metode pembelajaran Inquiry Learning belum pernah diterapkan.
B. Analisis Masalah
1. Masalah di atas tidak mungkin dipecahkan semuanya, karena keterbatasan kemampuan, dana dan tenaga. Masalah pokok tentang rendahnya hasil belajar Bahasa Indonesia akan dipecahkan menggunakan metode pembelajaran Inquiry Learning.
2. Selama ini guru mengajar belum menggunakan metode pembelajaran Inquiry Learning. Diharapkan dengan penerapan metode pembelajaran Inquiry Learning dapat meningkatkan pembelajaran Bahasa Indonesia sehingga siswa mudah menangkap konsep yang disampaikan guru dan siswa akan aktif dalam proses pembelajaran.
C. Rumusan Masalah
1. Bagaimana peningkatan hasil belajar Bahasa Indonesia subtema Anggota Keluargaku melalui metode Inqury Learning pada siswa kelas 1 SD Negeri Siwarak Wetan?
2. Apakah metode Inquiry Learning dapat meningkatan hasil belajar Bahasa Indonesia subtema Anggota Keluarga pada siswa kelas 1 SD Negeri Siwarak Weatan?
D. Tujuan Penelitian
1. Secara umum tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan pembelajaran Bahasa Indonesia kelas 1 SD Negeri Siwarak Wetan, sedangkan tujuan khusus penelitian ini adalah untuk:
2. Mendeskripsikan peningkatan pembelajaran Bahasa Indonesia subtema Anggota Keluarga melalui metode Inquiry Learning pada siswa kelas 1 SD Negeri Siwarak Wetan.
3. Meningkatan pembelajaran Bahasa Indonesia subtema Anggota Keluarga pada siswa kelas 1 SD Negeri Siwarak Wetan menggunakan metode Inquiry Learning.
E. Manfaat Penelitian
Dengan penelitian yang dilakukan ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Manfaat Teoretis
Secara teoretis, manfaat penelitian ini adalah menambah wawasan tentang penerapan metode Inquiry Learning dalam peningkatan pembelajaran Kurikulum 2013 pada siswa kelas 1 SD Negeri Siwarak Wetan.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Siswa
Dapat menambah dan memperluas wawasan dan pengalaman belajar bagi siswa kelas 1 SD Negeri Siwarak Wetan.
b. Bagi Guru
Penerapan metode Inquiry Learning dapat digunakan sebagai sarana untuk menumbuhkan kreatifitas guru dalam menggunakan berbagai model pembelajaran di dalam kelas.
c. Bagi Sekolah Dasar
Sebagai bahan masukan bagaimana upaya peningkatan pembelajaran siswa terhadap pembelajaran Kurikulum 2013 menggunakan metode Inquiry Learning
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Penelitian Tindakan Kelas
1. Pengertian Penelitian Tindakan Kelas
Penelitian Tindakan Kelas disingkat PTK atau Classroom Action Research adalah bentuk penelitian yang terjadi di dalam kelas berupa tindakan tertentu yang dilakukan untuk memperbaiki proses belajar mengajar guna meningkatkan hasil belajar yang lebih baik dari sebelumnya. Penelitian tindakan kelas dapat dipakai sebagai implementasi berbagai program yang ada di sekolah, dengan mengkaji berbagai indikator keberhasilan proses dan hasil pembelajaran yang terjadi pada siswa atau keberhasilan proses dan hasil implementasi berbagai program sekolah.Menurut Arikunto, dkk (2006), penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama. Menurut Supardi (2006), penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang mampu menawarkan cara dan prosedur baru untuk memperbaiki dan meningkatkan profesionalisme pendidik dalam proses belajar mengajar di kelas dengan melihat kondisi siswa. Menurut Aqib (2011), penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya sendiri melalui refleksi diri dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sehingga hasil belajar siswa meningkat.Menurut O’Brien (Mulyatiningsih, 2011), penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan ketika sekelompok orang (siswa) diidentifikasi permasalahannya, kemudian peneliti (guru) menetapkan suatu tindakan untuk mengatasinya.Menurut Kemmis dan Taggart (Padmono, 2010), penelitian tindakan kelas adalah suatu penelitian refleksif diri kolektif yang dilakukan oleh peserta-pesertanya dalam situasi sosial untuk meningkatkan penalaran dan keadilan praktik pendidikan dan praktik sosial mereka, serta pemahaman mereka terhadap praktik-praktek itu dan terhadap situasi tempat dilakukan praktik-praktek tersebut.
2. Langkah-langkah Penelitian Tindakan Kelas
1. Perencanaan (Planning), yaitu persiapan yang dilakukan untuk pelaksanaan Penellitian Tindakan Kelas, seperti: menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dan pembuatan media pembelajaran.
2. Pelaksanaan Tindakan (Acting), yaitu deskripsi tindakan yang akan dilakukan, skenario kerja tindakan perbaikan yang akan dikerjakan serta prosedur tindakan yang akan diterapkan.
3. Observasi (Observe), Observasi ini dilakukan untuk melihat pelaksanaan semua rencana yang telah dibuat dengan baik, tidak ada penyimpangan-penyimpangan yang dapat memberikan hasil yang kurang maksimal dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Kegiatan observasi dapat dilakukan dengan cara memberikan lembar observasi atau dengan cara lain yang sesuai dengan data yang dibutuhkan.
4. Refleksi (Reflecting), yaitu kegiatan evaluasi tentang perubahan yang terjadi atau hasil yang diperoleh atas yang terhimpun sebagai bentuk dampak tindakan yang telah dirancang. Berdasarkan langkah ini akan diketahui perubahan yang terjadi. Bagaimana dan sejauh mana tindakan yang ditetapkan mampu mencapai perubahan atau mengatasi masalah secara signifikan. Bertolak dari refleksi ini pula suatu perbaikan tindakan dalam bentuk replanning dapat dilakukan.
B. Karakteristik Siswa Kelas 1 Sekolah Dasar
Pada umumnya siswa kelas 1 SD berusia sekitar 6-8 tahun. Mengenai perkembangan anak Buhler mengungkapkan bahwa anak pada usia 6-8 tahun berada pada masa sekolah dasar. Pada periode ini, anak mencapai objektivitas tertinggi. Bisa pula disebut sebagai masa menyelidik, mencoba, dan bereksperimen, yang distimulasi oleh dorongan-dorongan menyelidik dan rasa ingin tahu yang besar, masa pemusatan dan penimbunan tenaga untuk berlatih, menjelajah, dan bereksplorasi (Sobur, 2010: 132).
Karakteristik siswa kelas 1 SD berada pada fase operasional konkret, maka dalam pembelajaran guru hendaknya menggunakan model pembelajaran yang tepat. Model pembelajaran yang dapat menciptakan pembelajaran yang menyenangkan, melibatkan siswa secara aktif, mengemukakan pendapatnya secara terbuka, dan mendapatkan pengalaman belajar yang bermakna. Berdasarkan hal tersebut, maka metode pembelajaran Inquiry Learning tepat digunakan dalam pembelajaran Kurikulum 2013 subtema Anggota Keluarga pada siswa kelas 1 SD, karena dengan diterapkannya model pembelajaran metode pembelajaran Inquiry Learning dengan media visual, siswa memperoleh pengalaman belajar secara langsung dan siswa akan dihadapkan pada situasi-situasi konkret yaitu bekerja sama dalam kelompok. Hal ini ditandai dengan karakter siswa kelas 1 SD yang memiliki rasa ingin tahu yang besar, dapat berpikir logis tentang suatu objek atau peristiwa, senang mencoba, menyelidiki dan bereksplorasi.
C. Hakikat Belajar
1. Pengertian Belajar
Menurut Burton (dalam Hosnan, 2014: 3) belajar merupakan suatu perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dengan individu dan individu dengan lingkungannya sehingga mereka dapat berinteraksi dengan lingkungannya.
Pendapat lain tentang pengertian belajar juga disampaikan oleh Sunaryo. Menurut Sunaryo (dalam Komalasari, 2013: 2) “Belajar merupakan suatu kegiatan di mana seseorang membuat atau menghasilkan suatu perubahan tingkah laku yang ada pada dirinya dalam pengetahuan, sikap, dan keterampilan.”
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan dalam diri seseorang yang ditandai oleh adanya sesuatu yang baru pada diri seseorang yang berbentuk keterampilan, sikap, kebiasaan, pengetahuan, ataupun kecakapan sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
2. Proses Belajar
Pembelajaran merupakan usaha guru melalui interaksi dengan siswa, untuk membantu siswa belajar yang pada akhirnya terjadi perubahan perilaku. Dalam pembelajaran, terjadi proses belajar pada diri siswa. Syah mengemukakan bahwa proses belajar adalah tahapan yang terjadi dalam diri siswa, yang meliputi perubahan perilaku kognitif, afektif, dan psikomotor. Perubahan tersebut bersifat positif karena membuat siswa berada dalam keadaan yang lebih maju daripada keadaan sebelumnya (2013: 113). Perubahan perilaku pada diri siswa ini didapat melalui pengalaman.
Hamalik berpendapat lain tentang pengertian proses belajar. Menurut Hamalik, “Proses belajar adalah pengalaman, berbuat, bereaksi, dan melampaui” (2013: 31). Proses belajar ini merupakan kegiatan pengalaman, berbuat, bereaksi, dan melampaui yang pada nantinya akan menimbulkan perubahan perilaku pada diri siswa.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa proses belajar adalah tahapan yang terjadi dalam diri siswa yang ditandai dengan perubahan dalam aspek kognitif, afektif, dan psikomotor yang diperoleh melalui pengalaman, berbuat, bereaksi, dan melampaui.
D. Hakikat Hasil Belajar
1. Pengertian Hasil Belajar
Kunandar (2014: 62) mengemukakan bahwa hasil belajar adalah komperensi atau kemampuan tertentu baik kognitif, afektif maupun psikomotor yang dicapai atau dikuasai peserta didik setelah mengikuti proses belajar mengajar.
Menurut Hamalik (dalam Kunandar, 2014: 62) “Hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, dan sikap-sikap serta kemampuan peserta didik.”
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa baik kognitif, afektif, maupun psikomotor setelah menerima pengalaman belajarnya.
2. Penilaian Hasil Belajar
Ratnawulan dan Rusdiana (2015: 57-58) menyebutkan bahwa penilaian hasil belajar dapat dikelompokkan menjadi tiga ranah, yaitu ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Penekanan ketiga ranah tersebut berbeda-beda pada setiap mata pelajaran. Ranah psikomotor lebih ditekankan pada mata pelajaran praktik, ranah afektif ditekankan pada sikap, dan ranah kognitif ditekankan pada mata pelajaran pemahaman konsep.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa penilaian hasil belajar yang menjadi objek penilaian kelas berupa kemampuan-kemampuan baru yang diperoleh siswa sesudah mereka mengikuti proses belajar mengajar tentang mata pelajaran tertentu. Hasil belajar hendaknya dirancang dengan baik sehingga jelas kemampuan, materi, alat, dan interpretasi hasil penilaiannya. Penilaian hasil belajar ini dapat dikelompokkan menjadi tiga ranah, yaitu ranah psikomotor (keterampilan), ranah afektif (sikap), dan ranah kognitif (pengetahuan).
Berdasarkan uraian tentang penilaian hasil belajar di atas, penilaian hasil belajar ini dikelompokkan menjadi tiga ranah, yaitu ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Ranah yang dipilih oleh peneliti dalam penilaian hasil belajar subtema Anggota Keluarga pada siswa kelas 1 SD Negeri Siwarak Wetann adalah ranah kognitif, afektif, dan psikomotor sesuai dengan karakteristik Kurikulum 2013.
E. Hakikat Pembelajaran
1. Pengertian Pembelajaran
UU RI No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab I Pasal 1 Ayat 20 menyatakan, “Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.”
Sagala (2013: 61) berpendapat, “Pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah, mengajar dilakukan oleh pihak guru sebagai pendidik, sedangkan belajar dilakukan oleh peserta didik atau murid.”
Berdasarkan uraian beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi antara peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar yang direncanakan, dilaksanakan, dan dievaluasi secara sistematis pada suatu lingkungan belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien.
2. Tujuan Pembelajaran
Pembelajaran mempunyai tujuan yang harus dicapai. Menurut Isjoni, “Tujuan pembelajaran adalah terwujudnya efisiensi dan efektivitas kegiatan belajar yang dilakukan peserta didik” (2010: 14). Pembelajaran yang berlangsung secara efisien dan efektif, dapat memudahkan siswa untuk belajar dengan baik.
Tujuan pembelajaran lain yang harus dicapai menurut Faturrohman, “Tujuan pembelajaran adalah tercapainya perubahan perilaku atau kompetensi pada siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran dan tujuan dirumuskan dalam bentuk pernyataan atau deskripsi yang spesifik” (2015: 34). Pembelajaran yang efisien dan efektif dapat memudahkan siswa dalam belajar, sehingga tercapailah perubahan perilaku atau kompetensi pada diri siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa tujuan pembelajaran adalah terwujudnya situasi pembelajaran yang efisien dan efektif sehingga kegiatan belajar yang dilakukan siswa dapat berjalan dengan baik dan terjadi perubahan perilaku atau kompetensi pada siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran.
Berdasarkan uraian tentang pengertian dan tujuan pembelajaran, dapat disimpulkan bahwa hakikat pembelajaran adalah usaha yang dilakukan guru melalui interaksi dengan siswa, untuk membantu siswa belajar agar proses belajar dan hasil belajar siswa dalam ranah kognitif, afektif, dan psikomotor dapat tercapai dengan baik seperti yang akan diteliti oleh peneliti dalam pembelajaran subtema Anggota Keluarga kelas 1 SD.
F. Hakikat Metode Pembelajaran Inquiry Learning
1. Pengertian Metode Pembelajaran Inquiry Learning
Pengertian dan Langkah-Langkah Model Pembelajaran Inkuiri (Inquiry Learning) – Menurut Gulo (dalam Al-Tabani, 2014: 78) menyatakan strategi inkuiri berarti suatu rangkaian kegatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuan-penemuannya dengan penuh percaya diri. Menurut Al-Tabani (2014: 147) inkuiri merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis kontekstual. Pengetahuan dan ketersmpilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta, melainkan hasil dari menemukan sendiri.
Menurut Al-Tabani (2014: 80) pembelajaran inkuiri memiliki beberapa ciri-ciri :
a. Pembelajaran inkuiri menekankan kepada aktivitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan
b. Seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencri dan menemukan jawaban sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan, sehingga diharapkan untuk dapat menumbuhkan sikap percaya diri.
c. Tujuan dari pembelajaran inkuiri yaitu mengembangkan kemampuan berfikir secara sistematis, logis, dan kritis, atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental.
2. Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Inquiry Learning
a. Pembelajaran ini merupakan pembelajaran yang menekankan kepada pengembangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor secara seimbang, sehingga pembelajaran melalui pembelajaran ini dianggap jauh lebih bermakna.
b. Pembelajaran ini dapat memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya mereka.
c. Pembelajaran ini merupakan strategi yang dianggap sesuai dengan perkembangan psikologi belajar moderen yang menganggap belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman.
3. Kekurangan Model Pembelajaran Inquiry yaitu :
a. Sulit mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa
b. Sulit dalam merencanakan pembelajaran oleh karena terbentur dengan kebiasaan siswa dalam belajar.
c. Kadang-kadang dalam mengimplementasikannya memerlukan waktu yang panjang sehingga sering guru sulit menyesuaikannya dengan waktu yang telah ditentukan
d. Selama kriteria keberhasilan belajar ditentukan oleh kemampuan siswa menguasai materi pelajaran, maka startegi ini tampaknya akan sulit di implementasikan.
4. Langkah-Langkah Model Pemebelajaran Inkuiri Learning
Langkah-langkah kegiatan inkuiri learning adalah sebagai berikut :
a. Merumuskan masalah
b. Mengamati atau melakukan observasi
c. Menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar, laporan, bagan, tabel, dan karya lainnya
d. Mengkomunikasikan atau mnyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, guru, audiens yang lainnya
Gambar 1 Proses Pembelajaran inkuiry
G. Penelitian yang Relevan
Penelitian yang relevan dengan penelitian ini diambil dari jurnal yang berjudul “Pengaruh Metode Pembelajaran Inquiry Learning Terhadap Hasil Belajar Bahasa Indonesia Ditinjau dari Keterampilan Berpikir Kritis Siswa” oleh Surayya, Subagia, dan Tika (2014: 1-11) dari Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja, Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengaruh metode pembelajaran Inquiry Learning terhadap hasil belajar Bahasa Indonesia ditinjau dari keterampilan berpikir kritis (KBK). Hasil penelitian ini menunjukkan perbedaan hasil belajar antara siswa yang mengikuti metode pembelajaran Ingquiry Learning dengan siswa yang mengikuti model pembelajaran konvensional.
H. Kerangka Berpikir
Berdasarkan hasil refleksi diri yang telah peneliti lakukan di kelas 1 SD Negeri Siwarak Wertan, pembelajaran yang dilakukan guru belum menggunakan metode pembelajaran yang sesuai dalam pembelajaran Kurikulum 2013. Proses pembelajaran masih didominasi oleh guru melalui ceramah, sehingga pembelajaran kurang bermakna karena siswa hanya menerima informasi dari guru dan siswa cepat merasa jenuh. Guru juga belum sepenuhnya melibatkan siswa secara aktif karena hanya beberapa siswa yang pintar saja yang aktif selama pembelajaran, sedangkan sebagian besar siswa lain hanya pasif dan tidak berani mengemukakan pendapatnya secara terbuka. Hal ini menyebabkan hasil belajar Bahasa Indonesia subtema Anggota Keluarga siswa kelas 1 SD Negeri Siwarak Wetan masih kurang dari KKM yaitu 70.
Berdasarkan kondisi awal tersebut, diberikan tindakan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia subtema Anggota Keluarga pada siswa kelas 1 SD agar dapat meningkat. Tindakan yang peneliti berikan adalah menggunakan model pembelajaran yang menyenangkan, melibatkan siswa secara aktif dan mengemukakan pendapatnya secara terbuka yaitu metode pembelajaran Inquiry Learning. Kegiatan pembelajaran dengan metode Inquiry Learning dapat menciptakan pembelajaran yang menyenangkan, siswa dapat berperan secara aktif dalam pembelajaran, dan saling bekerja sama, sesuai dengan karakteristik siswa kelas 1 SD, yaitu perkembangan siswa yang berlangsung secara holistik, memiliki rasa ingin tahu yang kuat, lebih suka bergembira atau riang, memiliki daya ingat yang kuat, daya hafal, dan memorisasi yang baik.
Penerapan metode pembelajaran Inquiry Learning akan membuat pembelajaran menjadi lebih menarik, bermakna, menyenangkan, siswa dapat berperan secara aktif dalam pembelajaran, dan saling bekerja sama, sesuai dengan karakteristik siswa kelas 1 SD dan tentunya akan mengarah pada meningkatnya kemampuan siswa dalam pembelajaran. Berdasarkan uraian dari kondisi awal, tindakan dan kondisi akhir, berpikir dapat digambarkan kerangka secara skematis sebagai berikut:
I. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan latar belakang, rumusan masalah, kajian teori, dan kerangka berpikir di atas, peneliti dapat mengajukan hipotesis tindakan penelitian yaitu: “Jika penerapan metode Inquiry Learning dilakukan dengan langkah yang tepat, maka dapat meningkatkan pembelajaran Bahasa Indonesia subtema Anggota Keluarga kelas 1 SD Negeri Siwarak Wetan.”
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Subjek Penelitian
Subjek penelitian tindakan kelas ini adalah semua siswa kelas 1 SD Negeri Siwarak Wetan tahun ajaran 2020/2021 yang berjumlah 18 siswa, yang terdiri atas 6 siswa laki-laki dan 12 siswa perempuan.
Secara umum, keluarga siswa SD Negeri Siwarak Wetan berada pada kondisi ekonomi menengah ke bawah. Pekerjaan orang tua siswa mayoritas buruh tani. Pada umumnya mereka adalah siswa-siswa yang aktif, tetapi pembelajaran yang dilakukan guru masih kurang dalam menimbulkan keaktifan siswa.
B. Tempat dan Waktu Pelaksanaan
1. Tempat Penelitian
Penelitian tindakan kelas dilaksanakan di SD Negeri Siwarak Wetan, Jalan Mahameru Timur KM.8 Desa Watuagung Kecamatan Tambak. Sekolah ini memiliki 6 ruang kelas yang terdiri atas ruang kelas I, ruang kelas II, ruang kelas III, ruang kelas IV, ruang kelas V, dan ruang kelas VI. Sekolah ini memiliki jumlah siswa sebanyak 142 siswa. Guru dan karyawan di sekolah ini berjumlah 9 orang yang terdiri atas 1 kepala sekolah, 6 guru kelas, 1 guru PAI, dan 1 penjaga.
2. Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan di kelas 1 SD Negeri Siwarak Wetan pada semester ganjil tahun ajaran 2020/2021 yaitu pada bulan November tahun 2020. Jadwal disusun diawali adanya kesadaran peneliti akan adanya permasalahan rendahnya prestasi belajar siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia subtema anggota keluarga
.
3. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas yang direncanakan akan dilaksanakan dalam tiga siklus. Peneliti bertindak sebagai pelaksana pembelajaran. Penelitian ini berkolaborasi dengan Bpk,Dul mukhid, S.Pd sebagai observer 1 dan Ibu Sri Suharyati, S.Pd sebagai observer 2. Penelitian ini dilaksanakan untuk meningkat hasil belajar Bahasa Indonesia subtema anggota keluarga.
C. Deskripsi Per Siklus
Prosedur penelitian tindakan kelas ini terdiri dari 3 siklus. Tiap-tiap siklus dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang dicapai, seperti yang telah didesain dalam faktor-faktor yang diselidiki. Untuk mengetahui permasalahan yang menyebabkan rendahnya hasil belajar Bahasa Indonesia subtema anggota keluaga siswa kelas 1 SD Negeri Siwarak Wetan Kecamatan Tambak Kabupaten Banyumas dilakukan terhadap kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru.
Sesuai dengan pokok permasalahan yang dirumuskan dalam judul penelitian, maka data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah mengenai penerapan metode pembelajaran Inquiry Learning yang dilakukan oleh guru dengan penanaman konsep melalui kerja kelompok. Data dikumpulkan dengan pengamatan pada saat guru melaksanakan tugas mengajar dengan menggunakan metode pembelajaran Inquiry Learning.
Dengan berpedoman pada refleksi awal, maka prosedur pelaksanaan penelitian melalui tahapan atau siklus, yang setiap siklus berisi empat langkah yaitu: tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, tahap observasi dan tahap refleksi. Secara rinci tahapan penelitian ini dapat dijabarkan dalam gambar 3 berikut :
Gambar 3 Perencanaan Tindakan
Adapun tahapan – tahapannya adalah :
A. Siklus I
1. Tahap Perencanaan Tindakan (planning) Pada tahap ini guru :
a. Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP ).
b. Menyiapkan media pembelajaran yang dibutuhkan.
c. Membuat lembar observasi.
d. Menyiapkan lembar evaluasi dan lembar penilaian.
2. Tahap Pelaksanaan Tindakan (Acting) Pada tahap ini guru :
a. Guru menerapkan pembelajaran bahasa Indonesia menggunakan metode pembelajaran Inquiri Learning di kelas I SD.
b. Siswa secara kelompok belajar membaca dengan merangkai huruf menjadi suku kata dengan bantuan gambar.
3. Tahap Observasi (Observing) Pada tahap ini guru :
a. Memonitor kegiatan siswa secara individu maupun kelompok
b. Membantu siswa jika menemui kesulitan
c. Memberikan penilaian proses terhadap kegiatan siswa.
4. Tahap Refleksi (Reflecting)
Pada tahap ini guru :
a. Membahas dan mengevaluasi hasil pembelajaran dari kegiatan 1,2,3
b. Sebagai dasar perlu atau tidak melaksanakan siklus kedua. Jika pada siklus I belum menunjukkan adanya peningkatan kemampuan membaca pada siswa kelas I maka perlu dilanjutkan dengan siklus II.
B. Siklus II
1. Tahap Perencanaan Tindakan (planning) Pada tahap ini guru :
a. Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) .
b. Menyiapkan media pembelajaran yang dibutuhkan
c. Membuat lembar observasi
d. Menyiapkan soal tes dan lembar penilaian
2. Tahap Pelaksanaan Tindakan (Acting) Pada tahap ini guru :
a. Guru menerapkan pembelajaran bahasa Indonesia menggunakan metode pembelajaran Inquiry Learning di kelas I SD.
b. Siswa secara kelompok/berpasangan belajar dengan bantuan gambar dan vidio pada power point.
3. Tahap Observasi (Observing) Pada tahap ini guru :
a. Memonitor dan membantu siswa jika menemui kesulitan
b. Membantu siswa jika menemui kesulitan
c. Memberikan penilaian proses terhadap kegiatan siswa.
4. Tahap Refleksi (Reflecting)
Pada tahap ini guru :
a. Membahas dan mengevaluasi hasil pembelajaran dari kegiatan 1,2,3
b. Membuat kesimpulan perlu atau tidak melaksanakan siklus ketiga. Jika pada siklus II belum menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar Bahasa Indonesia pada siswa kelas I maka perlu dilanjutkan dengan siklus III.
Siklus III
1. Tahap Perencanaan Tindakan (planning) Pada tahap ini guru :
a. Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
b. Menyiapkan media pembelajaran yang dibutuhkan
c. Membuat lembar observasi
d. Menyiapkan soal tes dan lembar penilaian
2. Tahap Pelaksanaan Tindakan (Acting) Pada tahap ini guru :
a. Guru menerapkan pembelajaran bahasa Indonesia menggunakan metode pembelajaran Inkuiri Learning di kelas I SD.
b. Siswa secara kelompok/berpasangan dengan bantuan gambar pada power point dan vidio youtube.
3. Tahap Observasi (Observing) Pada tahap ini guru :
a. Memonitor dan membantu siswa jika menemui kesulitan
b. Membantu siswa jika menemui kesulitan
c. Memberikan penilaian proses terhadap kegiatan siswa.
4. Tahap Refleksi (Reflecting) Pada tahap ini guru :
a. Membahas dan mengevaluasi hasil pembelajaran dari kegiatan 1,2,3
b. Membuat kesimpulan perlu atau tidak melaksanakan siklus selanjutnya.
Dengan adanya kegiatan belajar pada siklus III sudah menunjukan adanya peningkatan hasil belajar Bahasa Indonesia subtema Anggota Keluarga pada siswa kelas I siswa kelas I SD Negeri Siwarak Wetan meningkat dan mencapai KKM maka pada pembelajaran sudah berhasil
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Data Penelitian
Penelitian tindakan kelas dilaksanakan di SD Negeri Siwarak Wetan, Jalan Mahameru Timur KM.8 Desa Watuagung Kecamatan Tambak. Sekolah ini memiliki 6 ruang kelas yang terdiri atas ruang kelas I, ruang kelas II, ruang kelas III, ruang kelas IV, ruang kelas V, dan ruang kelas VI. Sekolah ini memiliki jumlah siswa sebanyak 142 siswa. Guru dan karyawan di sekolah ini berjumlah 9 orang yang terdiri atas 1 kepala sekolah, 6 guru kelas, 1 guru PAI, dan 1 penjaga.
Dengan jumlah guru yang lengkap tersebut proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik dan lancar, sehingga siswa yang masuk ke sekolah ini tergolong cukup. Jumlah siswa seluruhnya 142 siswa. Semua siswa yang telah disebutkan, berasal dari kalangan atau latar belakang yang berbeda. Sebagian besar siswa dari kalangan keluarga petani. Kedua orang tuanya sebagian besar hanya tamat pendidikan dasar. Sehingga perhatiannya kepada anak terhadap belajar atau pendidikan kurang, akibatnya anak mempunyai kendala atau mengalami kesulitan dalam belajar. Hal tersebut mengakibatkan masih adanya kendala dalam belajar yaitu masih ada siswa yang belum bisa membaca dengan lancar. Hal ini yang mendorong untuk dilakukan penelitian pada siswa kelas I. Karena di kelas I dari hasil belajar Bahasa Indonesia masih rendah dan perlu adanya peningkatan hasil belajar.
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yaitu melalui proses atau siklus berulang, bertahap, berkelanjutan yang akan direncanakan dan dilaksanakan secara kelompok siswa melaporkan hasil kerjanya. Pada siklus kedua pembelajaran dilakukan dengan menggunakan power point dan youtube sebagai pendukung pembelajaran. Setelah mengamati tulisan, gambar dan video yang dilihat, siswa dibentuk kelompok. Kegiatan selanjutnya siswa berdiskusi dan melaporkan hasilnya dengan cara mempresentasikan hasil kerja kelompok mengamati gambar dan video you tube serta mempraktekannya dengan mengirim video melalui WA rub kelas 1. Siklus ke tiga melanjutkan dari siklus pertama dan ke dua, yaitu degan menampilkan slide power point dan tayangan youtube sebagai sarana pendukung pembelajaran daring yang dilakukan guru, yang didukung dengan penggunaan alat peraga yang sesuai yaitu KIT bahasa Indonesia. Dari masing-masing siklus atau tahapan, materi pembelajaran selalu ditingkatkan. Setiap tindakan atau siklus diadakan tes atau evaluasi yang dikirim oleh guru dengan mengirim link evaluasi pada aplikasi kahoot.
Pelaksanaan tindakan kelas ini terdiri dari tiga siklus, setiap meliputi empat tahapan yakni perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi.
Sebelum pelaksanaan tindakan kelas, dilakukan tes kemampuan awal untuk mengetahui kemampuan awal siswa tentang hasil belajar. Berdasarkan hasil tes kemampuan awal pada tanggal 10 November 2020 diketahui bahwa hasil belajar siswa masih rendah. Hal ini dapat terlihat dari capaian nilai tes dengan rata-rata 59,06.
Data pada kondisi awal dapat disajikan dalam gambar 5.
Nilai
Rata-rata
100 -
90 -
80 -
70 -
60 -
50 -
40 -
30 -
20 -
10 -
0 -
68,12
59, 06
50
1 2 3
Gambar 4. Diagram Batang Hasil pembelajaran pada Kondisi Awal
Nilai kemampuan hasil pembelajaran siswa pada kondisi awal disajikan dalam tabel 1
Tabel 1. Nilai Kemamampuan Siswa pada Kondisi Awal
No Uraian Pencapaian Hasil Jumlah / Nilai
1 Siswa yang mendapat nilai di bawah 70 12
2 Siswa yang mendapat nilai di atas 70 4
3 Rerata 59,06
4 Keruntasan Klasikal 25%
Nilai siswa yang disajikan pada tabel di atas menunjukkan sebanyak 12 siswa memperoleh nilai di bawah 70, sejumlah 4 siswa yang memperoleh nilai 70 atau lebih. Nilai rerata 59,06 dengan tingkat ketuntasan klasikal sebesar 25%. Data ini menunjukkan bahwa hasil belajar belum memenuhi batas tuntas yang ditetapkan. Dengan demikian pada kondisi awal ini
Pembelajaran dapat dikatakan belum mencapai tujuan yang diharapkan .
Setelah diadakan tes kemampuan awal selanjutnya diadakan wawancara dengan siswa. Wawancara diadakan pada tanggal 12 November 2020. Berdasarkan hasil wawancara dengan siswa melalui meet bdiketahui bahwa proses pembelajaran masih menggunakan model pembelajaran konvensional dan banyak menggunakan metode ceramah. Selain itu dalam pembelajaran masih jarang digunakan media pembelajaran. Proses pembelajaran di dalam kelas belum mengoptimalkan peran serta siswa sehingga siswa masih pasif.
Mengingat begitu pentingnya mata pelajaran bahasa Indonesia dan kurangnya hasil belajar bahasa Indonesia maka diadakan kesepakatan dengan siswa untuk dilaksanakan pembelajaran yang dapat melibatkan keaktifan siswa, yaitu penggunaan model pembelajaran kooperatif dengan metode inkuiri learning. Langkah ini diambil dengan tujuan agar mampu meningkatkan proses pembelajaran di kelas yang implikasinya diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan akhirnya hasil belajar bahasa Indonesia secara umum dapat meningkat.
B . Deskripsi Pelaksanaan Penelitian
A. Siklus I
1. Tahap Perencanaan Tindakan (planning)
Pada tahap ini guru mempersiapkan Perangkat pembelajaran baik itu RPP, LKPD,bahan ajar dan evaluasi ( lampiran 1 ) link Google meet serta mengeshare digrup kelas 1,memberi informasi tujuan dari pembelajaran yang akan dilaksanakan,Serta memberi arahan-arahan dalam vidio pembelajaran yang akan dilakukan.
2. Tahap Pelaksanaan Tindakan (Acting)
Pada tahap ini Guru menerapkan pembelajaran bahasa Indonesia menggunakan metode pembelajaran Inquiri Learning di kelas I SD melelui google meet dan alamat link di share melalui grup kelas 1.Siswa secara kelompok dengan bantuan gambar yang di share melaui power point dan video pendukung pembelajaran siswa mengamati dan mempraktekan dengan menvideo dan dikirim ke guru meleleui WA pribadi atau email guru.
3. Tahap Observasi (Observing)
Pada tahap ini guru memonitor kegiatan siswa secara individu maupun kelompok dan membantu siswa jika menemui kesulitan dan memberikan penilaian proses terhadap kegiatan siswa.
Hasil Belajar Siklus 1
Kegiatan penelitian pada siklus I dilaksanakan satu kali pertemuan, tiap pertemuan selama 70 menit. Pada kegiatan diskusi kelompok, kegiatan masih didominasi oleh siswa yang pandai sedang siswa yang lain hanya mengikuti saja dan kurang berani berpendapat. Hal ini karena siswa belum terbiasa melakukan diskusi. Dalam kegiatan melaporkan hasil melalui presentasi masih ada siswa yang kurang berani mengeluarkan pendapat dan kegiatan banyak didominasi oleh siswa yang pandai. Tingkat keaktifan siswa selama mengikuti pembelajaran berdasarkan hasil observasi pada siklus I yang berkategori baik dapat disajikan sebagai berikut keaktifan siswa dalam mengikuti pelajaran sebesar 68,75%, 2) keaktifan siswa dalam mengajukan dan menjawab pertanyaan 56,25%, 3) rasa ingin tahu dan keberanian siswa meningkat 62,5%, 4) kreatif dan inisiatif siswa meningkat 56,25%, 5) aktif mengerjakan tugas pembelajaran individu maupun kelompok 50%. Rerata aktivitas siswa yang berkategori baik dalam pembelajaran adalah 58,75%.
Hasil distribusi keaktifan siswa pada siklus I dapat disajikan dalam bentuk diagram sebagai berikut.
Prosentase
100 -
90 -
80 -
70 -
60 -
50 -
40 -
30 -
20 -
10 -
0 -
8,75
32,5
58,75
kurang cukup baik
Gambar 5. Diagram Batang Prosentase Keaktifan Siswa Dalam Mengikuti Pembelajaran Membaca Permulaan Siklus I.
Setelah dilaksanakan pembelajaran pada siklus I selanjutnya diadakan tes kemamampuan pada link evaluasi. Adapun hasil tes kemampuan pada evaluasi padasiklus I tertera pada tabel 2.
Tabel 2. Nilai Tes Kemampuan Membaca Permulaan Siswa pada Siklus I
No Uraian Pencapaian Hasil Jumlah / Nilai
1. Siswa yang mendapat nilai di bawah 70 9
2. Siswa yang mendapat nilai di atas 70 7
3. Rerata 67,81
4. Ketuntasan Klasikal 43,75%
Hasil tes yang disajikan pada tabel di atas menunjukkan sejumlah 9 siswa medapat nilai kurang dari 70, sebanyak 7 siswa mendapat nilai 70 atau lebih. Nilai rata-rata kemampuan membaca permulaan pada pembelajaran siklus I ini adalah 67,81. ketuntasan secara klasikal sebesar 43,75%. Berdasarkan hasil tersebut dapat diketahui bahwa proses pembelajaran pada siklus I belum berjalan dengan baik.
Prosentase ketuntasan belajar siklus I tertera pada gambar 5
Prosentase
100 -
90 -
80 -
70 -
60 -
50 -
40 -
30 -
20 -
10 -
0
43,7
Gambar 6. Diagram Batang Prosentase Ketuntasan Hasil belajar Siklus 1
4. Tahap Refleksi (Reflecting)
Pada tahap ini guru membahas dan mengevaluasi hasil pembelajaran dari kegiatan 1,2,3. Berdasarkan hasil observasi di atas dapat diketahui bahwa masih ada beberapa siswa yang kurang aktif dalam kegiatan pembelajaran. Untuk menindaklanjuti pembelajaran pada siklus II perlu ditekankan kepada siswa mengenai perhatian siswa terhadap kegiatan pembelajaran. Kurangnya keberanian siswa mengeluarkan pendapat dalam kegiatan diskusi atau kelompok karena kegiatan masih didominasasi oleh siswa yang pandai. Oleh sebab itu pada kegiatan pembelajaran berikutnnya.
Perlu ditekankan kepada siswa agar siswa yang pandai memberi kesempatan kepada siswa yang kurang pandai untuk mengeluarkan pendapatnya. Pada kegiatan pelaporan hasil atau presentasi masih ada beberapa siswa kurang berani mengeluarkan pendapat sehingga untuk mengatasi hal ini guru harus selalu memberi semangat agar dapat membangkitkan keberanian siswa.
Pada kegiatan pembelajaran siklus I masih ada beberapa siswa yang ragu- ragu menggunakan slid power point, hal ini karena siswa belum terbiasa menggunakan video google meet dalam kegiatan pembelajaran. Untuk mengatasi hal ini pada siklus II, guru berusaha untuk meningkatkan keberanian siswa melalui alat slid power point dan video youtube terutama untuk menarik perhatian siswa dalam belajar.
B. Siklus II
Pembelajaran pada siklus II ini merupakan kelanjutan dari siklus 1
1. Tahap Perencanaan Tindakan (planning) Pada tahap ini guru :
a. Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) .
b. Menyiapkan media pembelajaran yang dibutuhkan
c. Membuat lembar observasi
d. Menyiapkan soal tes dan lembar penilaian
2. Tahap Pelaksanaan Tindakan (Acting) Pada tahap ini guru :
a. Guru menerapkan pembelajaran bahasa Indonesia menggunakan metode pembelajaran Inquiry Learning di kelas I SD.
b. Siswa secara kelompok/berpasangan belajar dengan bantuan gambar dan vidio pada power point.
3. Tahap Observasi (Observing) Pada tahap ini guru :
a. Memonitor dan membantu siswa jika menemui kesulitan
b. Membantu siswa jika menemui kesulitan
c. Memberikan penilaian proses terhadap kegiatan siswa.
d. Hasil observasi pada siklus II ini dapat dideskripsikan bahwa sebagian besar siswa sudah dapat meningkatkan aktivitas dalam mengikuti pembelajaran. Semua siswa sudah aktif dalam membentuk kelompok maupun kegiatan diskusi. Dominasi siswa yang pandai telah berkurang sehingga siswa yang kurang pandai dapat menunjukkan perannya sebagai anggota kelompok. Keberanian mengungkapkan pendapat sudah semakin meningkat. Siswa yang tadinya ragu-ragu sudah terlihat berani berbicara dan berlatih membaca. Di sudut lain guru semakin meningkatkan perhatiannya kepada setiap siswa baik kelompok maupun individu, sehingga kegiatan pembelajaran semakin lancar. Berdasarkan hasil observasi pada siklus II, tingkat aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran yang berkategori baik dapat diketahui sebagai berikut: 1) Keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran sebesar 75% 2) Keaktifan siswa dalam mengajukan dan menjawab pertanyaan 68,75% 3) Rasa ingin tahu dan keberanian siswa meningkat 75% 4) Kreatif dan inisiatif siswa meningkat 75% 5) Aktif mengerjakan tugas individu maupun kelompok 68,75% Rerata aktivitas siswa yang berkategori baik dalam mengikuti pembelajaran adalah 72,5%
Prosentase
100 -
90 -
80 -
70 -
60 -
50 -
40 -
30 -
20 -
10 - 0%(kurang)
0 -
27,5% ( Cukup )
72,5% ( Baik)
Gambar 7. Diagram Batang Prosentase Keaktifan Siswa dalam Mengikuti
Pembelajaran Membaca Permulaan Siklus II
4. Tahap Refleksi (Reflecting)
Pada tahap ini guru :
a. Membahas dan mengevaluasi hasil pembelajaran dari kegiatan 1,2,3
b. Membuat kesimpulan perlu atau tidak melaksanakan siklus ketiga. Jika pada siklus II belum menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar adalah 72,5%.
c. Pembelajaran Bahasa Indonesia pada siswa kelas I sudah ada peningkatan yang signifikan maka peneliti memutuskan untuk menghentikan penelitian tindakan kelas ini
BAB V
SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN
A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang dilakukan sebanyak tiga siklus dapat disimpulkan bahwa:
a. Melalui penerapan metode inkuiry learning dapat meningkatkan proses pembelajaran bahasa Indonesia pada siswa kelas 1 SD Negeri Siwarak Wetan Kecamatan Tambak Kabupaten Banyumas tahun pelajaran 2020/2021.
b. Melalui penerapan metode inkuiry leraning dapat meningkatkan kemampuan hasil belajar bahasa Indonesia pada siswa kelas 1 SD Negeri Siwarak Wetan Kecamatan Tambak Kabupaten Banyumas tahun pelajaran 2020/2021.
Hal tersebut ditunjukkan dengan nilai rerata hasil observasi terhadap aktivitas siswa pada siklus I sebesar 58,75% pada siklus II sebesar 72,5% dan pada siklus III sebesar 85%. Rerata kemampuan hasil belajar bahasa Indonesia siswa pada kondisi awal 59,06 dengan tingkat ketuntasan klasikal 25%. Pada siklus I, nilai rerata hasil belajar bahasa Indonesia siswa 67,81 dengan tingkat ketuntasan secara klasikal 43,75%. Pada siklus II nilai rerata hasil belajar bahasa Indonesia siswa 71,71 dengan tingkat ketuntasan secara klasikal 68,75%. Dari keseluruhan tindakan pada penelitian tindakan kelas dapat dikatakan berhasil apabila hasil dari siklus I ke siklus II mengalami peningkatan rata-rata, sehingga dapat membawa ke arah peningkatan hasil belajar bahasa Indonesia pada siswa kelas I SD Negeri Siwarak Wetan Kecamatan Tambak Kabupaten Banyumas tahun pelajaran 2020/2021.
B. Implikasi Hasil Penelitian
Penelitian tindakan kelas berjudul “ Peningkatan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Subtema Anggota Keluarga Melalui Metode Inquiry Learning Kelas 1 SD Negeri Siwarak Wetan” yang dilakukan sebanyak dua siklus dapat meningkatkan hasil belajar bahasa Indonesia pada siswa kelas 1 SD Negeri Siwarak Wetan Tahun pelajaran 2020 / 2021.
Mengacu pada simpulan tersebut, maka diharapkan model pembelajaran tersebut dapat diterapkan di dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Dengan metode pembelajaran inkuiry learning tersebut, selain dapat digunakan untuk meningkatkan hasil belajar siswa, juga dapat meningkatkan kualitas pembelajaran serta dapat memotivasi semangat belajar siswa dalam mengikuti pelajaran. Oleh sebab itu guru hendaknya harus kreatif dan aktif dalam menerapkan metode inkuiry learning sehingga dapat menumbuhkan rasa senang kepada siswa dalam mengikuti pembelajaran, agar siswa tidak jenuh, akhirnya peningkatan hasil belajar siswa kelas I menjadi optimal sesuai dengan batas ketuntasan belajar baik secara individual maupun kelompok.
C. Saran
Dalam rangka peningkatkan hasil bel;ajar siswa sewaktu pembelajaran bahasa Indonesia, maka peneliti menyampaikan saran sebagai berikut :
1. Untuk Guru
a. Memberikan motivasi kepada siswa untuk aktif mengikuti proses pembelajaran dengan metode inkuiry learning dalam peningkatkan hasil belajar.
b. Mengevaluasi efisien dan efektivitas penerapan metode pembelajaran inkuiry learning untuk peningkatkan hasil belajar siswa sewaktu pembelajaran bahasa Indonesia berlangsung.
c. Memberikan motivasi kepada siswa dan memberikan penguatan kepada siswa yang sudah lancar membaca, sehingga siswa dapat menunjukkan kinerja yang lebih baik.
2. Untuk Siswa
a. Kepada siswa hendaknya aktif dalam mengikuti proses pembelajaran dan berusaha meningkatkan kemampuan belajar sehingga memperoleh hasil belajar yang optimal
b. Memiliki rasa senang untuk membaca melalui pembelajaran inkuiry learning maupun penggunaan alat peraga yang tersedia.
b. Kepada siswa yang sudah lancar membaca jangan merasa bosan untuk memberi contoh dengan cara belajar bersama (kelompok) dengan teman yang
c. lain.
3. Para Peneliti
Kepada peneliti lainnya hasil penelitian ini dapat dijadikan acuan untuk melakukan penelitian lebih lanjut, untuk menentukan faktor-faktor lain yang dapat mendukung peningkatan hasil belajar. Melalui usaha ini, antara peneliti yang satu dengan peneliti yang lain dapat menunjukkan kinerja semakin baik dalam rangka peningkatkan hasil belajar dalam pembelajaran bahasa Indonesia.
Tambak, 12 November 2020
Penulis
DWI SETYANINGSIH,S.Pd
DAFTAR PUSTAKA
Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi
Rusman Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada 1, 447
http://fatkhan.web.id/pengertian-dan-langkah-langkah-model-pembelajaran-inkuiri-inquiry-learning/
Arikunto, S. (2013). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
Arikunto, Suhardjono, dan Supardi. 2015. Penelitian Pendidikan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.
BSNP. Undang-undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Fathurrohman, P. & Sutikno, S. (2015). Strategi Belajar Mengajar Melalui Penanaman Konsep Umum & Konsep Islami. Bandung: PT. Refika Aditama.
Hamalik. (2013). Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.
Hosnan. (2014). Pendekatan Saintifik dan Kontekstual dalam Pembelajaran Abad 21. Bogor: Ghalia Indonesia.
Isjoni, H. (2010). Pembelajaran Kooperatif: Meningkatkan kecerdasan komunikasi antar Peseta didik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2017). Buku Tematik Terpadu Kurikulum 2013, Buku Guru Kelas 1 Tema 3. Jakarta: Kemendikbud
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2017). Buku Tematik Terpadu Kurikulum 2013, Buku Siswa Kelas 1 Tema 4. Jakarta: Kemendikbud
Komalasari, K. (2013). Pembelajaran Kontekstual Konsep dan Aplikasi. Bandung: PT. Refika Aditama.
Kunandar. (2014). Penilaian Autentik (Penilaian Hasil Belajar Peserta Didik Berdasarkan Kurikulum 2013). Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.
Ratnawulan, Elis dan Rusdiana. 2015. Evaluasi Belajar. Bandung: CV Pustaka Setia.
Rusman. (2011). Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.
Sagala, S. (2013). Konsep dan Makna Pembelajaran untuk Membantu Memecahkan Problematika Belajar dan Mengajar. Bandung: Penerbit Alfabeta.
Surayya, Subagia, dan Tika (2014: 1-11)Pengaruh Metode Pembelajaran Inquiry Learning Terhadap Hasil Belajar Bahasa Indonesia Ditinjau dari Keterampilan Berpikir Kritis Siswa”
Menurut O'Brien dan Endang Mulyatiningsih. (2011:60)”penelitian tindakan yang dilakukan oleh guru di dalam kelas”
Hamalik, (2013: 31 “Proses belajar adalah pengalaman, berbuat, bereaksi, dan melampaui”
Ratnawulan dan Rusdiana (2015: 57-58) menyebutkan bahwa penilaian hasil belajar dapat dikelompokkan menjadi tiga ranah, yaitu ranah kognitif, afektif, dan psikomotor
LAMPIRAN 1
Instrumen Pengumpulan Data
1. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan cara yang digunakan peneliti untuk mengumpulkan data yang dibutuhkan dalam penelitian. Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling efektif digunakan dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data (Sugiyono, 2012: 224). Teknik pengumpulan data dapat dilakukan dengan berbagai macam cara. Teknik pengumpulan data menurut Sugiyono (2012: 225) dapat dilakukan dengan kuesioner (angket), interview (wawancara), observasi (pengamatan), dokumentasi, dan gabungan keempatnya.
Teknik pengumpulan data pada penelitian ini digunakan untuk memperoleh informasi tentang penerapan model Inquiry Learning dalam peningkatan pembelajaran Bahasa Indonesia subtema anggota keluarga kelas 1 SD Negeri Siwarak Wetan. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu:
a. Tes
Teknik pengumpulan data dalam PTK ada bermacam-macam, salah satunya adalah teknik tes. Menurut Arikunto, “Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok” (2013: 193).
Teknik tes digunakan untuk mengumpulkan data tentang kemampuan siswa dalam memahami pembelajaran. Berdasarkan cara pelaksanaannya tes dibedakan menjadi tiga yaitu tes tes lisan, tes tertulis dan tes perbuatan. Pada tes tertulis, pernyataan dan jawaban disampaikan dalam bentuk tertulis. Tes tertulis dapat berbentuk menjodohkan, pilihan ganda, benar-salah, isian singkat dan uraian. Pada tes lisan, pernyataan dan jawaban disampaikan dalam bentuk lisan. Pada tes perbuatan, siswa dituntut untuk menampilkan hasil karya, ekspresi menyanyi, bermain alat musik, menggambar, berolahraga, dan menulis karangan.
Teknik tes yang akan diberikan oleh peneliti pada siswa kelas 1 SD Negeri Siwarak Wetann adalah tes tertulis dan tes perbuatan yang dilakukan pada saat proses pembelajaran berlangsung. Tes tertulis berupa tes hasil belajar siswa kelas 1 SD pada pembelajaran 1 subtema pentingnya udara bersih bagi pernapasan. Tes perbuatan berupa aktivitas siswa saat pembelajaran berlangsung.
b. Teknik Nontes
Teknik nontes digunakan untuk mengetahui keadaan yang terjadi selama proses pembelajaran. Data yang diperoleh berupa data yang bersifat abstrak, yaitu data yang berupa perubahan-perubahan tingkah laku siswa pada saat pembelajaran berlangsung. Teknik penelitian yang termasuk teknik nontes salah satunya adalah teknik observasi. Observasi adalah teknik pengumpulan data yang melibatkan indra manusia sehingga tidak hanya dengan pengamatan menggunakan mata. Mencium, mendengarkan, mengecap, dan meraba termasuk bentuk observasi (Sangadji & Sopiah, 2010: 192).
c. Dokumentasi
Menurut Sugiyono, “Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu” (2012: 240). Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, catatan harian, ataupun catatan hasil belajar. Dokumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah daftar nilai ulangan mingguan pembelajaran subtema anggota keluarga siswa kelas 1 SD Negeri Siwarak Wetan tahun ajaran 2020/2021 pada semester 1.
2. Alat Pengumpulan Data
Alat atau instrumen pengumpulan data dalam penelitian adalah semua alat yang akan diperlukan untuk mengumpulkan data tentang semua proses pembelajaran, jadi bukan hanya hasil pembelajaran saja (Arikunto, dkk., 2015: 85). Alat pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini disesuaikan dengan teknik pengumpulan data yang digunakan.
a. Instrumen Tes
Tes hasil belajar siswa digunakan untuk mengukur penguasaan materi pada pembelajaran 1 subtema pentingnya udara bersih bagi pernapasan. Tes hasil belajar siswa ini berupa tes tertulis dan tes perbuatan. Tes tertulis berupa tes hasil belajar siswa kelas 1 SD Negeri Siwarak Wetan pada pembelajaran subtema anggota keluarga.
b. Instrumen Nontes
Lembar observasi digunakan untuk mengamati penerapan metode Inquiry Learning terhadap guru dan siswa. Lembar observasi digunakan pada setiap siklus untuk mendapatkan data selama proses pembelajaran. Lembar observasi penerapan metode Inquiry Learning terhadap guru mencangkup langkah-langkah pembelajaran yang dilakukan guru. Lembar observasi penerapan metode Inquiry Learning terhadap siswa mencangkup kegiatan yang dilakukan siswa dalam pembelajaran.
c. Dokumen
Dokumen yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah daftar nilai ulangan mingguan pembelajaran subtema anggota keluarga kelas 1 SD Negeri Siwarak Wetan tahun ajaran 2020/2021 pada semester 1.
A. Teknik Analisis Data
Teknik dalam penelitian tindakan kelas yang digunakan untuk mengolah data yang ada adalah teknik analisis data. Pengertian analisis data menurut Sugiyono:
“Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami diri sendiri maupun orang lain” (2012: 244).
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis statistik deskriptif dan teknik analisis deskriptif kualitatif. Teknik analisis statistik deskriptif untuk menganalisis data kuantitatif berupa nilai hasil belajar siswa dalam pembelajaran subtema anggota keluarga kelas 1 SD. Teknik analisis deskriptif kualitatif untuk menganalisis data komulatif yang berupa proses pembelajaran subtema anggota keluarga kelas 1 SD. Hasil analisis data tiap pertemuan digunakan untuk menentukan kegiatan pada siklus selanjutnya. Analisis data dari hasil belajar siswa adalah sebagai berikut:
1. Aspek kognitif siswa yang berupa hasil tes formatif.
Untuk menganalisis nilai aspek kognitif siswa, maka dilakukan dengan cara membandingkan nilai yang diperoleh pada siklus I,siklus II dan III dengan menghitung nilai rata-rata setiap siswa pada setiap akhir siklus dan menghitung rata-rata kelas, menggunakan rumus :
1) Nilai siswa
S = X 100
Keterangan:
S = nilai yang diharapkan
R = jumlah skor dari item atau soal yang dijawab benar
N = skor maksimum dari tes tersebut
2) Nilai rata-rata kelas
N =
Keterangan:
N = Nilai rata-rata (mean)
X = Jumlah nilai total yang diperoleh dari hasil penjumlahan
nilai setiap individu
N = Banyaknya siswa
Pedoman penskoran yang digunakan untuk mengukur kemampuan kognitif siswa pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
Skor 4 : Jawaban benar, lengkap dan jelas
Skor 3 : Menjawab dengan langkah-langkah benar tetapi hasil akhir salah
Skor 2: Menjawab dengan tidak ada langkah-langkah tetapi hasilnya benar
Skor 1 : Menjawab salah
Skor 0 : Siswa tidak menjawab
3) Ketuntasan belajar siswa
P = x 100%
Keterangan:
P : Persentase ketuntasan belajar siswa
F : Jumlah siswa yang tuntas belajar
N : Jumlah seluruh siswa
Dengan kriteria penilaian sebagai berikut:
0% ≤ rata-rata ≤ 25% : kurang baik
25% ˂ rata-rata ≤ 50% : cukup baik
50% ˂ rata-rata ≤ 75% : baik
75% ˂ rata-rata ≤ 100% : sangat baik
2. Hasil Belajar Aspek Afektif dan Aspek Psikomotor
Untuk menganalisis hasil belajar secara afektif dan psikomotor menggunakan persentase dengan rumus:
Keterangan;
NP : Nilai persen yang dicari atau diharapkan
N : Skor mentah yang diperoleh siswa
SM : skor maksimum ideal dari tes yang bersangkutan
100 : bilangan tetap
Dengan kriteria penilaian sebagai berikut:
0% ≤ rata-rata ≤ 25% : kurang baik
25% ˂ rata-rata ≤ 50% : cukup baik
50% ˂ rata-rata ≤ 75% : baik
75% ˂ rata-rata ≤ 100% : sangat baik
3. Observasi aktivitas guru dan siswa
a. Data hasil observasi aktivitas guru
Untuk mengetahui rata-rata aktivitas guru, dapat menggunakan rumus:
Keterangan;
X = Nilai rata-rata (mean)
X = Jumlah seluruh skor
N = Banyaknya aspek
Kriteria penilaian hasil observasi aktivitas guru sebagai berikut:
Dengan penskoran :
1 = sangat kurang baik
2 = kurang baik
3 = baik
4 = sangat baik
Kriteria penilaian aktivitas guru sebagai berikut :
1 ≤ rata-rata < 1,75 = kinerja guru kurang
1,75 ≤ rata-rata < 2,5 = kinerja guru cukup
2,5 ≤ rata-rata < 3,25 = kinerja guru baik
3,25 ≤ rata-rata < 4 = kinerja guru sangat baik
b. Data hasil observasi aktivitas siswa
Untuk menganalisis data hasil observasi aktivitas siswa pada lembar observasi aktivitas siswa menggunakan persentase dengan rumus:
Keterangan;
NP : Nilai persen yang dicari atau diharapkan
R : Skor mentah yang diperoleh siswa
SM : skor maksimum ideal dari tes yang bersangkutan
100 : bilangan tetap
Dengan kriteria penilaian hasil observasi aktivitas siswa sebagai berikut:
0% ≤ rata-rata ≤ 25% : kurang baik
25% ˂ rata-rata ≤ 50% : cukup baik
50% ˂ rata-rata ≤ 75% : baik
75% ˂ rata-rata ≤ 100% : sangat baik
Lembar Observasi Pengelolaan Pembelajaran oleh Guru
No Aspek yang diamati Skor Keterangan
I Pengamatan KBM
A. Pendahuluan
Memotivasi siswa
Menyampaikan tujuan pembelajaran
3
4
ada
ada
B. Kegiatan Inti
Mendiskusikan langkah-langkah kegiatan bersama siswa
Membimbing siswa melakukan kegiatan
Membimbing siswa mendiskusikan hasil kegiatan dalam kelompok
Memberikan kesempatan pada siswa untuk mempresentasikan hasil kegiatan belajar mengajar
Membimbing siswa merumuskan kesimpulan/menemukan konsep
3
3
4
4
3
Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
C. Penutup
Membimbing siswa membuat rangkuman Memberikan evaluasi
4
4
Ada
Ada
II Pengelolaan Waktu 3 Lebih dari 10 Menit
III Antusiasme Kelas
Siswa Antusias
Guru Antusias
3
4
Kurang
Antuasias
Jumlah 42
Keterangan : BAIK
Nilai Kriteria
1. : Tidak Baik
2. : Kurang Baik
3. : Cukup Baik
4. : Baik
Lembar Observasi Aktivitas Guru dan Murid
No Aktivitas Guru yang diamati Skor Presentase Keterangan
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10 Menyampaikan tujuan
Memotivasi siswa/merumuskan masalah
Mengkaitkan dengan pelajaran berikutnya
Menyampaikan materi / langkah-langkah/strategi
Menjelaskan materi yang sulit
Membimbing dan mengamati siswa dalam menentukan konsep
Meminta siswa menyajikan dan mendiskusikan hasil kegiatan
Memberikan umpan balik
Membimbing siswa merangkum pelajaran 4
4
4
4
3
4
3
4
4
4 80%
80%
75%
75%
75%
80%
70%
80%
80%
80% ADA
ADA
ADA
ADA
ADA
ADA
ADA
ADA
ADA
ADA
No Aktivitas Siswa yang diamati Skor 38
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10 Mendengarkan/memperhatikan penjelasan guru
Membaca buku siswa
Bekerja dengan sesama anggota kelompok
Diskusi antar siswa/antara siswa dengan guru
Menyajikan hasil pembelajaran
Mengajukan/menanggapi pertanyaan/ide
Menulis yang relevan dengan KBM
Merangkum pembelajaran
Menyimpulkan pembelajaran
Mengerjakan tes evaluasi/latihan 3
4
4
4
3
3
4
4
4
4 80%
80%
80%
80%
75%
75%
80%
80%
80%
80% Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Keterangan : Baik
Nilai Kriteria
1. : Tidak Baik
2. : Kurang Baik
3. : Cukup Baik
4. : Baik
Lembar Observasi Kinerja Guru
NO DESKRIPTOR SKOR
I PERENCANAAN PEMBELAJARAN
1 Merumuskan tujuan pembelajaran 4
2 Memilih dan mengorganisasikan materi ajar sesuai dengan tujuan 4
3 Memilih sumber dan media sesuai dengan tujuan dan materi 4
4 Merumuskan scenario pembelajaran dengan jelas, rinci dan sesuai dengan tujuan 3
5 Menyususn instrument penelitian dengan lengkap dan sesuai dengan tujuan 4
II PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
6 Mengingatkan kembali pelajaran yang lalu dan menjelaskan pentingnya materi pembelajaran 3
7 Menunjukan penguasaan materi pembelajaran 3
8 Mengaitkan materi dengan pengetahuan lain yang relevan dengan realitas kehidupan 4
9 Menyampaikan materi secara logis dan jelas (Auditori) 3
10 Melaksanakan pembelajaran secara sistematis 3
11 Mengelola waktu pembelajaran secara efektif 4
12 Mampu mengelola kelas 4
13 Melaksanakan pembelajaran dengan membagi peserta didik dalam kelompok dengan cara setiap kelompok terdiri dari peserta didik yang heterogen 3
14 Menggunakan media visual (PPT/Video/Gambar/Macromedia Flash) 3
15 Melaksanakan pembelajaran yang dapat menumbuhkan motivasi peserta didik dalam belajar melalui presentasi hasil diskusi kelompok (kinestetik) 4
16 Memberikan penguatan dari hasil diskusi kelompok 3
17 Memberikan penghargaan kepada peserta didik 4
18 Merangsang peserta didik untuk bertanya 3
Menanggapi dengan terbuka terhadap pertanyaan dan respon peserta didik 4
19 Menumbuhkan keceriaan dan antusiasme peserta didik 3
20 Menggunakan bahasa lisan dan tulis dengan jelas, baik, dan benar 3
21 Melakukan penilaian akhir sesuai dengan tujuan pembelajaran 4
22 Melakukan refleksi atau membuat rangkuman pembelajaran dengan melibatkan peserta didik 4
JUMLAH SKOR 81
LAMPIRAN 3
Rubrik Penilaian Sikap Percaya Diri Petunjuk :
Lembaran ini diisi oleh guru untuk menilai sikap spiritual peserta didik. Berilah tanda cek (V) pada kolom skor di lembar observasi sesuai sikap spiritual yang ditampilkan oleh peserta didik selama pemberian tugas individu dan kelompok.
Aspek Kriteria
(4) (3) (2) (1)
Percaya diri Indikator :
1. Selalu bersikap tenang dalam mengerjakan segala sesuatu.
2. Mempunyai potensi dan kemampuan yang memadai
3. Mampu menetralisasi ketegangan yang muncul di dalam berbagai situasi.
4. Mampu menyesuaikan diri dan berkomunikasi di berbagai situasi.
5. Memiliki kecerdasan yang cukup.
6. Selalu bereaksi positif di dalam menghadapi berbagai masalah. Dapat
memenuhi
6 – 5 indikator
Dapat
memenuhi
4- 3 indikator
Dapat memenuhi
2 – 1 indikator Belum memenuhi
keenam
indikator
Lembar Observasi Penilaian Sikap Percaya Diri
No Nama Siswa Aspek Sikap Sosial Nilai
Akhir Predikat
Percaya Diri
1 2 3 4
1 Muhamad Alif 92 A
2 Ara S 88 A
3. Budi 88 A
4. Vina 84 B
5. Dikdik 86 B
6. Diki 75 B
7. Satria 54 K
dst.
Jumlah
Langganan:
Postingan (Atom)